Bernostalgia Dengan Masa Lalu


Mendengarkan ‘If You’re the One’-nya Daniel Bedingfield seakan membuka kembali satu kenangan yang indah tapi ingin ku kubur dalam-dalam. Cerita tentang sebuah kisah yang sulit untuk dimaafkan. Cerita tentang satu kisah yang ‘mungkin’ menyakitkan.

Dan slide film pun kembali berputar. Memutar kembali setiap masa itu. Satu per satu.

Mengeja saat pertemuan pertama di kawasan terminal, bekerja bersama, satu kisah di bawah deras hujan, sebuah perjalanan berdua, jamuan makan malam, janji untuk mengarungi hidup bersama, satu duri kecil dalam hubungan, persahabatan yang berantakan dan akhirnya semua usai begitu saja.

‘Kaset’ itu seakan memutar kenangannya sendiri. Tanpa disuruh, tanpa diminta. Meski tak mau, tapi nyatanya harus ‘nrimo’. Meski tak suka, tapi harus terpaksa menikmati.

Dan saat semuanya selesai diputar, yang tersisa hanya air mata dan penyesalan. Tanya yang sama pun kembali terngiang.

‘Kenapa harus seperti ini?’

atau…

‘Kenapa harus aku?’

Ah, seandainya saja… Dan, kata seandainya pun semakin sering dipakai.

‘Seandainya aku tidak melakukan seperti itu…’

Aku tahu, bukan hanya aku yang mengalami hal seperti ini. Tapi semua ini membuatku mengerti bagaimana sakitnya mengingat semua kenangan yang tak pernah ingin dikenang.

Tapi mau atau tidak, semuanya harus dikenang hanya karena sebuah lagu…
*sigh*

Nostalgia itu seperti pisau. Tajam! Lalu apa yang harus kita lakukan pada kenangan yang memaksa untuk terus diingat?

Raditya Dika

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s