Memujanya


Kalau saja aku sadar bahwa jurang itu terlalu lebar, mungkin aku takkan merasakan sakit seperti ini. Aku hanya sekedar tahu, tanpa pernah mau untuk mengerti.

Aku dan dia berbeda, sangat berbeda. Seperti apa yang dilakukan bunga matahari pada matahari, aku berusaha mengejar tapi dia terlalu jauh untuk kurengkuh.

Aku terus mengejarnya, memimpikannya menungguku dengan kedua tangan terbuka. Berharap dia bisa melihat saat aku melambaikan tangan. Berharap dia memberikan senyum terindahnya untukku.

Tapi tak ada yang berubah. Dia tetap jauh. Jurang itu masih menganga lebar.

Dan yang membuatku semakin sakit, sekalipun telah ku coba untuk menyadari, dia sepertinya takkan pernah tau bahwa aku selalu memperhatikannya, mengharapkannya dan menginginkannya untuk menjadi bagian dari hidupku.

Ah ya, seharusnya memang tak begitu. Tak perlu mengejarnya hingga letih. Tak perlu menginginkannya seperti ini. Tak perlu mencintainya terlalu dalam.

Bukankah aku memiliki lebih dari sejuta alasan jika memang tak bisa bersatu?!

Advertisements

2 thoughts on “Memujanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s