Aku Ikhlas


Aku yang memikirkan, namun aku tak banyak berharap..
Kau membuat waktuku tersita dengan angan tentangmu..
Mencoba lupakan, tapi ku tak bisa..
Mengapa begini?

Masih ingat dengan lagu itu? Lagu tahun 2007 kalau tidak salah. Sebuah lagu ciptaan musisi Yovie Widianto yang mampu membuatku dan juga beberapa orang berkata, ‘Ih, aku banget!’

Jatuh cinta, mungkin, memang seperti itu. Memikirkan setiap hari bahkan setiap detik. Berharap meski kadang menyisakan sedikit ruang di hati untuk tak terlalu berharap. Lalu, saking cintanya, berkata ‘Aku ikhlas asal kamu bahagia.’

Aku ingat persis satu kejadian, saat seorang temanku harus menerima kenyataan bahwa dia jatuh hati pada seorang teman lama kami.

Saat itu dia berkata, ‘Gak, aku cuma seneng. Ora ngarep luwih teko arek’e.’ Artinya kira-kira, ‘Gak, aku cuma suka. Gak mengharap lebih dari dia.’

Tapi satu ketika dia dihadapkan pada situasi yang membuat mereka menjadi lebih dekat. Dimulai dari sering SMS-an, trus hang-out berdua. Dan aku, sebagai teman dekat keduanya, mulai berani mengambil kesimpulan bahwa mereka sudah ‘jadian’.

Cerita itu ternyata belum berakhir. Suatu hari, aku justru mendengar kabar mengejutkan kalau si cowok sudah tunangan dengan cewek lain. Loh?

Kelanjutannya? Bisa dibayangkan bagaimana sedihnya si cewek saat mendengar berita itu. Meski, di hadapanku dan teman-teman yang lain dia terlihat tegar atau lebih tepatnya berusaha untuk tegar, terlihat segaris rasa kecewa tersirat dari wajahnya.

Tragis! Rasanya ingin berkata, ‘Hey, I know what you’re feeling.’

Tapi kalimat seperti itu takkan cukup untuk mengobati hatinya. Semuanya butuh waktu. Semuanya butuh proses.

Sekalipun dia sudah menyisakan beberapa bagian hatinya untuk siap menghadapi hal-hal seperti ini, rasanya tetap saja sama. SAKIT!

‘Ikhlas itu ternyata sulit ya. Sekarang aku tahu gimana rasanya jadi kamu.’ Itu kalimat yang dia ucapkan saat kami bertemu beberapa hari yang lalu.

Ya, ikhlas itu takkan semudah membalikkan telapak tangan. Tak sesederhana mencintai yang hanya butuh cinta.

Ikhlas itu butuh waktu. Butuh waktu untuk menerima kenyataan. Tapi lebih butuh hati yang lapang.

Ikhlas itu ribet. Ribet karena kita terjebak di antara rasa ingin memiliki dan rasa ingin melepas yang hampir berimbang.

*Nah loh, bahasa-nya jadi ikutan ribet kan?* :P

‘Aku bahagia asal dia bahagia.’

Mungkin ada kalimat yang memang sengaja untuk tidak dikatakan.

‘…Tapi gimana pun juga, aku tetep sakit hati.’

Hehehe… :P

Apapun itu, cepat atau lambat, semuanya pasti akan hilang dengan sendirinya. Hanya butuh sedikit waktu untuk mengerti. Atau sedikit mengutip lirik lagu dari Lyla, hanya perlu sedikit waktu untuk terbiasa bernafas tanpanya.

‘Merelakan bukan berarti menyerah, tapi lebih kepada menyadari dan menerima bahwa ada hal-hal yang tak bisa dipaksakan.’

*Note : buat temenku yang aku maksud di sini, percayalah apapun yang terjadi padamu saat ini hanya akan membuatmu lebih kuat. :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s