Antara Sastra Jawa dan Sastra Tinta Merah


‘Saya tak pernah tahu seberapa besar isi dari buku ini mempengaruhi pemikiran saya. Yang saya tahu, saya jadi berpikir. Itu saja, tidak lebih.’

Quote di pagi hari

Masih tentang Satin Merah. Terus terang, saat sebulan lalu saya membeli novel tersebut, saya hanya tertarik pada genre ceritanya. Hanya berbekal pengetahuan itu, saya dengan mantap memasukkannya dalam tas belanja.

Jalan cerita yang menegangkan dan misterius itu memang sukses membuat saya parno. Tapi, tak ada yang lebih membuat saya takut selain sebuah pesan tersirat dari cerita tersebut.

Sastra daerah? Ya, sastra daerah. Semua itu membuat saya berpikiran lebih parno lagi.

‘Kalau sekarang sudah hampir punah, bagaimana 10 tahun yang akan datang? Masihkah ada orang yang peduli? Masihkah ada orang yang memakai bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari?’

Oke, saya mungkin dirasuki cara berpikir tokoh Lina dalam novel tersebut. Tapi terus terang, memikirkan hal itu membuat saya meringis.

Saya lahir dari rahim seorang ibu asli Jember dengan seorang ayah Jawa tulen. Hidup di lingkungan yang sehari-hari berkomunikasi dengan bahasa Jawa khas Jawa Timur.

Bukannya hal itu bagus ya? Jujur, saya beruntung orang tua saya tidak sekolot orang tua Nadya yang menganggap bahwa sastra daerah itu hanya urusan orang desa.

Yang lebih saya sesali adalah keadaan saya sendiri. Ngenes, kata orang Jawa.

Bagaimana tidak? Saya masih ingat betul bagaimana nilai mata pelajaran Bahasa Daerah saya sewaktu SD dan SMP. Terlalu buruk bagi seorang anak yang dibesarkan di lingkungan orang Jawa. Jauh di bawah nilai Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Mungkin di satu sisi, saya dibuat sadar bahwa pemahaman saya terhadap Budaya dan Sastra Jawa sangatlah kurang. Dan itu harus saya akui.

Dari situ juga, setelah beberapa hari saya merenung, tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran. Kenapa tidak mencoba membuat puisi atau cerpen berbahasa Jawa?

Pemikiran yang spontan dan tiba-tiba itu, membuat saya jadi ingin belajar Basa Krama lagi. Sebuah bahasa yang selalu saya hindari selama ini.

Sebelum semuanya terlambat. Sebelum Sastra Jawa (benar-benar) punah. Apa jadinya jika seorang yang selama ini sangat mencintai dan dekat dengan dunia sastra justru terkesan acuh pada sastra daerahnya sendiri?

Yeah, I’ll learn to make it! Demi Sastra Jawa. :)

*Buat Mas Brahm & Teh Rie, thanks for the story.. I’m soooo excited! ♥ Satin Merah.. xoxoxo

Advertisements

2 thoughts on “Antara Sastra Jawa dan Sastra Tinta Merah

  1. Dari ngobrol2 dg Pak Parto, ikon Sastra Jawa, sastra2 daerah memang sekarat. Cerita beliau begitu menggebu2. Kadang lugu, kadang bikin trenyuh, kadang bikin ketawa (menertawakan diri sendiri), kadang bikin miris. Seandainya ada mesin waktu, aku pasti balik ke zaman SD dan lebih giat belajar Bahasa Daerah, hahaha.

    Tp mesin waktu itu nggak ada, setidaknya blm ditemukan :P Jd yg bisa kita lakukan cuma berusaha mengapresiasi sastra2 daerah, dg membelinya, membacanya, bahkan menulisnya. Yg bisa kita lakukan adalah tetap meneruskan cita2 awal kita, cita2 utama, tp sambil tidak melupakan sastra daerah. Krn kita terlanjur ada di posisi sekarang, yg serba modern, yg nggak memungkinkan kita jd pahlawan sastra daerah spt yg dicita2kan Nadya. Mau ambil jalan pintas spt Nadya? Aku saranin jangan :)

    Yah, semoga ada generasi baru yg berminat memajukan bahasa dan sastra daerah sejak usia dini. Kamu betul, itulah pesan tersirat dari novel Satin Merah.

  2. Iya, bener… Hihi, jadi malu sendiri karna pengetahuan Bahasa Daerah-ku 'cethek' banget..

    Makasih 'sentilan'-nya, Mas… Gara-gara itu aku jadi mulai berburu majalah berbahasa Jawa… Hahahah

    xoxoxo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s