Happy Birthday


Rasanya, seperti baru kemarin aku melihatmu tumbuh di sebuah kota megapolitan di jantung Eropa. Aliran peluh—yang membentuk anak-anak sungai—di wajahmu belum sepenuhnya mengering. Wajahmu yang lugu berbanding lurus dengan hening yang sering kamu ciptakan.

Semua terasa berjalan begitu cepat. Sama cepatnya dengan berlalunya waktu yang memaksaku untuk tumbuh dan melepas masa remajaku yang ceria. Secepat waktu yang membuatku lupa bahwa kamu pernah hadir di sini—mengisi satu ruang kosong di hati.

Hari ini, biarkan aku mengenangmu sejenak. Membiarkan kenangan-kenangan masa remajaku mengisi kosongnya waktu di sela kesibukanku. Mengabaikan seorang lain yang telah menggantikan posisimu selama sembilan tahun terakhir.

Hari ini saja.. Mengingat saat pertama aku melihatmu mengusap peluh di sebuah kota kecil di utara Amsterdam. Mengingat sorot mata sendu penuh makna. Juga mengeja kembali setiap cerita tentangmu yang terkadang kuabaikan.

Kamu masih 17 tahun saat itu dan aku masih terlalu muda untuk mengerti. Ada rentang waktu 5 tahun yang memisahkan usia kita. Dan juga ada bermil-mil jarak yang terpancang dari ujung Timur Pulau Jawa hingga garis pantai barat Benua Eropa.

Kamu yang membuatku semakin menggilai duniamu. Kamu yang memperpanjang sederet alasan yang membuatku ingin menginjakkan kaki di tanahmu—negeri yang telah menjajah hatiku sedari kecil.

Sedikit tentang kisah cintamu yang tak ingin kulupakan. Saat kamu jatuh hati pada seorang wanita berambut keemasan—seorang model yang tengah naik daun kala itu. Tepat pada hari ulang tahunnya, kamu menghadiahkan satu jersey milikmu.

Argh, aku tidak pernah mengira bahwa hubungan kalian masih berlanjut hingga sekarang. Wanita yang telah menjadikanmu seorang ayah. Wanita yang telah menjadikanmu satu-satunya. Dan juga wanita yang menunjukkan pada dunia begitu besarnya cintamu untuknya. Juga betapa setianya dirimu—saat masih bertahan di sampingnya meski usianya divonis tersisa hanya beberapa bulan lagi.

Kamu mungkin tidak pernah tahu betapa aku memujamu 10 tahun yang lalu. Betapa aku banyak belajar dari kesederhanaanmu. Betapa aku berharap dapat menemukan seseorang sepertimu—untuk menjadi pendampingmu kelak

Hari ini, takkan ada
sebuah tart mini dengan 28 lilin untuk merayakannya. Hanya sebuah goresan kata di atas lembaran putih. Juga segaris doa yang terucap tulus dari hati.

Happy birthday… :)

Rentang waktu terkadang membuat kita lupa bahwa kita semakin dewasa..

Rentang waktu terkadang membuat kita lupa bahwa kita telah melanggar titah Yang Kuasa..

Rentang waktu
terkadang membuat kita sadar bahwa kita hanya manusia,
yang tak punya apa-apa selain jasad yang tak berguna..

Rentang waktu terkadang membuat kita sadar bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa..
Melainkan hati yang ada di dalam dada
dan amal jasad yang lata..

Walau Einstein berkata bahwa rentang waktu itu berbeda—tergantung dalam keadaan apa kita berada..

Namun Tuhan telah berkata,
“Hanya Akulah yang tahu umur manusia”.

Sekular barat berkata,
“Waktu adalah dollar di dalam kantung”

Namun Hasan Al-Bana berkata,
“Waktu adalah pedang, potong atau terpotong”.

Waktu…..
Alam terus menari dalam simfoninya

Waktu…..
Umur manusia didikte olehnya

Waktu…..
Setiap detaknya memakukan kita di persimpangan jalan
Jalan Tuhan atau jalan setan..

Rentang waktu…
Semoga tak melalaikan kita ‘tuk terus berjalan di jalan-Nya..

…by anonim…

Happy birthday, Rafa… :)

Advertisements

One thought on “Happy Birthday

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s