Fall For You

Selama ini, kita selalu bertemu dalam keheningan malam. Di bawah kerlingan bintang dan senyum sendu bulan―walau terkadang hanya pekat yang terlihat.

Tidak peduli seberapa ingin kelopak mata bersatu, aku berusaha untuk bertemu. Letih akan menguap saat kita mulai berbicara. Lelah akan lebur ketika aku mulai menguntai kata.
Continue reading “Fall For You”

Musim Panas dan Imaji

Hei, sepertinya sudah lama sekali setelah hari terakhir bicara. Tiga hari berlalu tanpa sapa. Tiga hari yang berlalu tanpa kabar berita Dan sekarang, aku punya banyak hal yang ingin kuceritakan. Tapi entahlah, mungkin aku tidak bisa menceritakan semua—untuk sekarang, mungkin.

Intinya, aku letih. Ada satu hal yang membuat kepalaku terasa pening, meski aku sendiri tahu itu tidak penting dan tidak ada hubungannya denganku. Aneh dan sedikit gila. Saat aku mencoba untuk tidak lagi memikirkan hal itu, pikiranku justru semakin kusut. Dan ini sama sekali tidak meyenangkan. Tidak menyenangkan saat harus tahu, juga saat harus menceritakan ulang.
Continue reading “Musim Panas dan Imaji”

Patah

How did an angel break my heart? Now I know, maybe he’s not an angel…

Mencintai itu tidak pernah salah, begitu katamu. “Karena memang hati tidak bisa memilih pada siapa ia akan jatuh.” Mulanya, aku membenarkan perkataanmu.

Tetapi, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mencintai seseorang yang tidak pernah bisa membalas cinta itu. Mencintai seorang yang hatinya sudah termiliki. Dan, bagiku, itu adalah patah hati yang paling menyesakkan.
Continue reading “Patah”