(Still) Jet Lag


Simple Plan dengan Jet Lag-nya membuatku merasakan satu rasa yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Jet lag, sebuah kondisi psikologis akibat perubahan ritme circadian. Perubahan tersebut bisa disebabkan oleh kerja shift, perjalanan melewati meridian atau panjangnya hari yang berubah.

Namun jet lag yang kumaksud adalah kegilaan yang disebabkan oleh perbedaan zona waktu yang terlampau jauh. Aku merasakannya. Merasakan seperti apa menjalani hubungan jarak jauh dengan perbedaan waktu telak―bukan seperti LDR yang kujalani dulu. Rasanya… Sedikit lebih menyakitkan.

Ini terjadi saat aku memainkan imajinasi yang berubah liar karena mendengar lagu itu. Dan kebetulan juga, lagu itu sesuai dengan alur cerita yang aku buat. Kebetulan yang menguntungkan tapi juga membuatku sedikit kebingungan dan melakukan kesalahan yang menurutku fatal. Aku salah menghitung waktu. =)

Trying to figure out the time zones making me crazy…

Masih tentang hubungan Canna dan Rafa―dan jika kamu menebak apa nama tokoh itu kuambil dari nama Rafael Van Der Vaart atau Rafael Nadal, kamu seratus persen benar. Dan entahlah, aku rasa aku terlalu lamban mengerjakannya. Asal kamu tahu, aku menyelesaikan satu bab dalam sehari dengan rentang waktu dengan bab sebelumnya hampir satu bulan. Lama, bukan? =)

Sebenarnya hanya ada dua alasan yang mampu menjawab mengapa aku terkesan begitu ‘lamban’. Aku butuh riset yang lebih dalam dan… Aku rasa memang aku harus mengerjakan sedikit demi sedikit. Tidak perlu terburu nafsu untuk menyelesaikannya daripada hasilnya menjadi berantakan. Ah, sudahlah.

Dan siang tadi, saat lagu itu menyusup melalui dua earphone iPod, aku jadi merasa bernostalgia dengan rasa itu. Aneh, bukan? Padahal aku membubuhkan titik terakhir untuk tulisan itu sekitar dua hari yang lalu.

Oh, sebenarnya mungkin tidak aneh juga. Memang sejak kapan hidupku tidak dipenuhi oleh hal-hal absurd? =P

Tapi peristiwa ini sempat membuatku berpikir, jangan-jangan kita terpisah sejauh itu. Apa mungkin kita punya perbedaan waktu lebih dari dua belas jam? Aku harap, tidak.

Sekitar tiga tahun yang lalu, aku pernah bertemu seseorang di angkot. Dia berkata, jodohku berasal dari timur. Dan karena aku tinggal di Jember, kupikir, bisa jadi kamu berasal dari Banyuwangi; Bali; Lombok; Makassar atau mungkin Selandia Baru. =)

Dan beberapa tahun setelah itu, aku justru berpikir betapa sempitnya pikiranku. Satu, aku percaya ucapan orang itu―yang entah benar atau tidak. Dua, aku bersikap seolah ingin menantang takdir-Nya.

Aku berhenti percaya setelahnya. Let it flow. Dan seperti itu aku menjalani hidupku sekarang. Mengapa harus sibuk berpikir tentang orang timur mana? Mengapa harus percaya sebuah ramalan daripada menunggu apa yang telah dijanjikan-Nya?

Oh sekarang bicaraku semakin ngelantur tidak jelas. Mungkin ini efek dari begadang semalaman atau memang pikiranku yang tengah rancu.

Tapi aku masih berpikir, mungkin orang itu ada benarnya juga. Maksudku, bukan masalah arah mata angin yang dikatakannya. Dia berkata timur, bisa saja itu barat. Bukankah bumi itu bulat? Timur bisa jadi barat. Utara menjadi selatan. Tenggara menjadi barat laut. Barat daya menjadi timur laut. Begitu seterusnya.

Seperti kata Rafa, “Bumi itu bulat. Berjalan terus ke timur pun, kamu akan tetap sampai di barat.”

Selamat malam…. =)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s