Carla Bruni dan Keinginan Itu


Petikan gitar Carla Bruni menemaniku jemariku menari malam ini. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku mendengarkan lagu itu. Tapi rasanya masih sama. Senyap.

Jika disuruh memilih, aku akan lebih memilih untuk mendengarkan lagu metal, gothic atau apapun lagu yang bisa menghindarkanku dari rasa galau. Tapi malam ini aku memilih Carla. Romantisme yang menguar dari petikan gitar dan juga liriknya membuatku percaya akan adanya kamu.

Ini hanya soal waktu. Dan tidak peduli seberapa panjangnya waktu ini, kita akan tetap bertemu suatu hari nanti. Aku akan pulang padamu atau sebaliknya, kata Carla. Karena pada dasarnya, kita tercipta untuk saling bersama. Sederhana, bukan?

Dan, ya, aku cukup galau malam ini. Asal kamu tahu saja, sekitar tujuh tahun yang lalu aku sempat kebingungan menghadapi selembar kertas hasil psikologi. Kecenderungan sifatku ternyata sangat berbeda dengan 39 teman sekelasku yang lain. Jika kecenderungan sifat mereka adalah egois; ekstentrik; manja dan lain sebagainya, maka kecenderunganku adalah galau.

Galau di sini adalah gamang terhadap perasaan kita sendiri. Bingung, bukan? Maksudnya seperti ini, di satu waktu aku berpikir sangat keras untuk satu hal atau permasalahan. Tapi saat itu juga, di saat yang hampir bersamaan, aku justru mengabaikan perasaan itu dan berkata dalam hati ‘Ah, sudahlah tidak perlu dipikirkan’. Namun pengabaian itu tidak mampu menghilangkan rasa gelisah yang sebelumnya ada.

Kira-kira seperti itu definisi galau dalam dunia psikologi. Dan karena saran seorang guru Fisika, akhirnya aku sibuk berburu buku-buku psikologi umum dan populer. Kurasa, aku jauh lebih cerdas semasa duduk di bangku sekolah daripada sekarang. =)

Ah, kembali pada kegalauanku hari ini. Dua puluh lebih wishlist buku untuk beberapa bulan mendatang terbentang di meja kerjaku siang tadi. Beberapa di antaranya justru buku-buku cetakan lama yang sudah ‘kuincar’ sejak sekolah dulu―yang karena harganya cukup mahal menjadi tidak terjangkau dengan uang saku yang ala kadarnya.

Mereka benar, terlalu banyak pilihan ternyata bisa membuat kita bingung. Dapat dipastikan aku kebingungan menentukan mana yang harus kubeli terlebih dahulu. =(

Pilihannya justru semakin rumit saat sebuah penerbit mengatakan bahwa dua penulis favoritku akan menerbitkan buku mereka bulan depan. Gila! Semakin bingung lah diriku.

Di satu sisi, hasrat untuk berbelanjaku semakin menggebu―untuk hal ini kurasa aku harus bersyukur karena aku hanya tergila-gila pada buku. Di sisi lain, aku harus berusaha agar aku tidak melebihi budget belanja buku bulanan yang telah disepakati bersama dengan ibu.

Pada akhirnya aku berhasil menentukan pilihan―setidaknya untuk buku-buku apa yang harus dibeli untuk Juni dan Juli. \o/

Tentang berjalan atau tidaknya rencana itu, entahlah hanya waktu yang bisa menjawab. Sama seperti pertemuan kita. Kembali ke kutipan Carla, semua hanya masalah waktu.

Dan hal paling penting yang bisa kupelajari adalah proses ‘menenemukan’ bukan bagaimana jadinya nanti. Dari kegalauan tadi, aku belajar bagaimana menentukan skala prioritas dan mengambil keputusan.

Bicaraku semakin lama semakin berat dan melenceng ke mana-mana. Dan―yah!―sudah pukul 09:25 pm, aku sudah berjanji pada di sendiri untuk bangun lebih pagi esok hari.

Selamat malam… =)

PS: coba sekali-kali dengarkan lagu yang kusebut di atas. ☺

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s