Patah


How did an angel break my heart? Now I know, maybe he’s not an angel…

Mencintai itu tidak pernah salah, begitu katamu. “Karena memang hati tidak bisa memilih pada siapa ia akan jatuh.” Mulanya, aku membenarkan perkataanmu.

Tetapi, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mencintai seseorang yang tidak pernah bisa membalas cinta itu. Mencintai seorang yang hatinya sudah termiliki. Dan, bagiku, itu adalah patah hati yang paling menyesakkan.

“Berjuanglah. Hati bisa berubah dengan cepatnya.” Itu kata terakhirmu saat itu. Tetapi, aku sudah memilih berhenti mencintai. Aku tidak nyali. Aku masih saja takut untuk patah hati lagi.

Rasanya begitu perih. Rasanya sesak. Membayangkan apa yang tidak bisa dimiliki menjadi milik orang lain. Berkata lirih dalam hati, “He doesn’t love me.” berulang-ulang.

Kenyataan tetap tidak berubah. Aku terlalu rapuh. Aku sudah patah sejak saat pertama menyadari cinta itu miliknya.

Pada akhirnya, aku benar-benar berhenti. Membiarkan kesunyian pagi menelusup di antara celah-celah jendela yang terbuka. Membiarkan dingin membekapku lalu mengurungku dalam patah yang kedua kali. Membiarkan diam berbisik, dia bukan malaikat yang kucari.

Dan kemudian, seiring berjalannya waktu, aku benar-benar berhenti. Patah mengajari satu hal, ada sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Dan aku memutuskan untuk melepas semuanya.

Dalam patah…

Jember, 29 Mei 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s