(Beralih) Ke Prancis Sejenak


Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Memang hakku untuk menjadi luar biasa

Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung
Rendah diri dan terpedaya karna dilindungi pihak berkuasa

Aku siap menghadapi resiko terencana
Berangan-angan dan membina
Untuk gagal dan sukses

Aku menolak menukar insentif dengan derma
Aku memilih tantangan hidup daripada derma

Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan terjamin
Kenikmatan mencapai sesuatu, bukan utopia yang basi

Aku tidak akan menjual kebebasanku
Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma
Pada sembarang atasan dan ancaman

Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani
Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri

Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata…

‘Ini telah kulakukan!!’

Segalanya ini memberikan makna seorang insan…

Den Alfange, seorang penyair Prancis. Puisi di atas hanya satu-satunya karya yang aku tahu. Mungkin saja, dia tidak setenar seorang Victor Hugo yang telah menulis beberapa puisi―yang menurutku sangat mengesankan―dan yang dengan Les Miserables-nya membuatku merasa menderita. Oh, mungkin tidak bisa juga jika harus membandingkan mereka. Saat iseng memasukkan nama Alfange di wikipedia, aku bahkan tidak menemukan namanya―karena itu, jika ada seorang mahasiswa Sastra Prancis yang sudi memberitahu padaku siapa dia, maka aku akan berterima kasih.

Satu-satunya itu yang membuatku tercengang saat pertama membaca terjemahan bebas puisi tersebut―aku juga tidak tahu apa judul dalam bahasa Prancis-nya. Sedikit tersentil dan juga merasa sedikit termotivasi.

Aku lupa bahwa, sekali lagi, hidup itu pilihan. Pilihan yang sebenarnya mudah jika kita yakin dengan apa yang kita mau.

Sedikit tidak relevan, menurutku. Karena—masih menurutku—Alfange justru bermaksud mendorong orang lain untuk berani berbisnis. Entah benar atau tidak, aku juga tidak tahu. Ini hanya sekedar penafsiranku saja. Dan asal kamu tahu, penafsiranku sering kali ugal-ugalan. =)

Dan bicara Prancis―entah kenapa aku jadi berpikir mungkin kamu bosan jika aku hanya bicara tentang Belanda―sudah dua tahun terakhir ini aku merasa tergila-gila dengan sastranya. Harus kuakui, kegilaan ini mungkin semakin menjadi-jadi sekarang. Aku juga bingung mengapa. Tapi setiap aku membaca novel-novel Prancis lawas, rasanya seperti kembali ke abad pertengahan. Revolusi Prancis. Dan satu yang paling penting, aku jadi semakin tahu betapa bobroknya sistem pemerintahannya saat itu—dan itu hampir menyeluruh di seluruh aspek.

Ah, bicara apa aku ini? Mungkin ada baiknya jika aku tidak perlu bicara ngelantur seperti ini. lagipula hal ini bukan bagian dan keahlianku. Kurasa, ada baiknya jika aku hanya duduk di atas kursi dengan mata terpaku pada sebuah novel karya Dumas, Hugo atau yang lebih modern, Marc Levy.

Ya, aku gila Sastra Prancis. Sama seperti kegilaanku untuk menginjakkan kaki di Belanda—ups, dan lagi-lagi aku menyinggung negara kecil itu. Satu dari banyak hal yang belum tercapai saat ini adalah kursus Bahasa Prancis. Keinginan yang berawal dari keisenganku dengan teman sebangku saat SMA—dia sangat tergila-gila dengan Prancis—yang menginginkan sebuah tantangan dalam penguasaan bahasa asing selain Bahasa Inggris.

Sampai sekarang—yang ini juga aku tidak tahu apa alasannya—kami sama-sama belum melupakan keinginan itu dan, sayangnya juga, kesempatan untuk belajar belum muncul juga. Alasan yang paling masuk akal untuk menjelaskan semua hanya: Bahasa Prancis terlalu cantik untuk tidak dipelajari dan untuk yang kedua, kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan.

Mungkin nanti. Entahlah… Aku menjadi sedikit pesimis akan datangnya kesempatan itu. Kursus bahasa Prancis-ku hanya sebatas mendengarkan lagu-lagu Anggun C. Sasmi atau Gregory Lemarchal, sebuah kamus lengkap—tapi aku yakin itu tak lengkap—Bahasa Prancis dan juga sebuah channel TV Prancis.

Ah, aku jadi teringat seseorang. Seseorang yang fasih berbahasa Prancis tentu saja. Dia seorang Belgia. Kalau kamu berpikir dia seorang atlet, aku akan mengiyakan. Akan kuceritakan tentang dia di lain waktu—dan kuharap kamu tidak merasa keberatan.

Aku harus mengisihkan sedikit waktu untuk membaca buku—juga sedikit waktu untuk melihatnya, kupikir—dan setelah itu menyimpan tenaga untuk esok hari.

Selamat malam… xx

P.S: Beberapa waktu yang lalu, temanku berkata, ‘I need, I dream, I wish, I can, I try, I do and the I can get it.’ Kurasa dia benar, mimpi atau apapun itu tidak akan menjadi sebuah kenyataan jika hanya berdiam diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s