Akhir


Akhirnya kita tiba di ujung. Sebuah akhir dari ribuan mil perjalanan yang telah kita lalui dengan bergandengan tangan.

Dan syaraf-syaraf yang semula tenang mulai bereaksi: tangan menyentuh sudut mata, sesak menjalari setiap ruang hati. Hening yang hampa pun mulai merangsek dalam kekosongan waktu yang tercipta karena ketiadaan dirimu.

“Kita benar-benar harus berpisah.” Kamu berkata begitu ringan seolah tidak ada sebuah beban di pundakmu. Seperti perpisahan―yang menurutku menyakitkan―ini adalah satu hal yang biasa bagimu. Tidak meninggalkan kesan yang menyesakkan seperti kataku.

Kamu berkata, takdir telah menentukan waktu yang tepat untuk sebuah akhir. Dan tidak peduli sekeras apa kita berusaha untuk menentang, takdir tidak pernah mau berkompromi dengan keteguhan kita untuk mempertahankan yang ada―waktu juga tidak akan mau tahu.

Sakit memang. Tapi saat semua ini berakhir, lanjutmu, satu kehidupan yang benar-benar baru akan dimulai: musik-musik bergenre lebih ceria untuk menggantikan musik gothic bernuansa suram yang dulu sering kudengarkan bersamamu, senyum untuk menggantikan mendung yang sering terlihat di wajahmu. Sesuatu yang pastinya akan jauh lebih indah.

Dan karena itu, aku dan kamu harus berani berjalan sendiri-sendiri. Memutuskan untuk mengakhiri semua. Lalu di saat kita mulai terbiasa dengan semua, rasa sakit karena perpisahan itu tidak akan berpengaruh apa-apa lagi.

Bahkan kita akan lupa bahwa kita pernah mengucapkan selamat tinggal…

A new beginning always starts at the end. ~ Mother Earth (Within Temptation)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s