Nostalgia Masa Lalu


Nostalgia itu seperti pisau. Tajam! Lalu apa yang harus kita lakukan pada kenangan yang memaksa untuk terus diingat? ~ Raditya Dika

Ada waktu-waktu tertentu di mana hal-hal kecil bisa membuat kita kembali mengeja setiap perjalanan yang sebenarnya tidak ingin kita ingat: aroma hujan yang berpadu dengan udara lembab, secangkir espresso yang mengepul, hilir mudik bus di terminal dan lantunan suara Daniel Bedingfield dengan If You’re Not The One-nya.

Hal-hal yang begitu dekat dengan masa-masa itu namun nyaris dilupakan. Sesuatu yang memaksaku menjadi seorang penonton untuk film dari setiap kenangan itu. Tidak ada yang meminta untuk berada di posisi seperti. Namun akhirnya aku hanya bisa diam―duduk sambil menopang dagu dan melihat semua dengan perasaan yang bercampur-aduk. Manis, getir dan pahitnya tidak lagi terasa sama, tapi masih bisa dikecap dengan baiknya.

Seandainya… Dan selalu kata itu.

Mengenang hanya membuat kita semakin akrab dengan kata seandainya, itu katamu dulu. Dan kenyataannya memang selalu seperti itu. Saat slide-slide kenangan itu selesai diputar, kata itu terlalu sering muncul di setiap kesimpulan yang bisa kuambil.

Tapi kamu dan aku sama-sama melupakan satu hal, kenangan yang kita reguk terlalu sering bisa mendamaikan kita dengan rasa sakit. Lalu berdamai dengan setiap kenyataan yang tidak mungkin lagi diubah. Hingga akhirnya, rasa itu tidak akan berpengaruh lagi dan kita akan benar-benar lupa bahwa kita pernah merasakan perih.

Dan sekarang aku pun bisa berkata padamu, “Aku tidak merasakan apa-apa lagi sekarang.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s