Jenuh


Mungkin kita tidak pernah menyadari―setelah melewati semua―ada jemu yang menyusup di antara kebersamaan. Sedikit rasa bosan pada musik-musik bernada keras, aroma kopi yang menyatu dengan udara pagi juga obrolan yang hanya ini-ini saja.

Terkadang kulihat kamu meregangkan setiap sendi. Itu caramu menghilangkan rasa yang tidak pernah mau kita akui. Dan aku hanya mengerjapkan mata, menguap, mengetuk meja atau menyobek beberapa selebaran yang kita dapat dalam perjalanan pulang.

Tapi ini sama halnya dengan menyimpan bibit penyakit. Keheningan, yang kita ciptakan karena tak ingin saling menyakiti, justru semakin membuatnya menjalar dan menggerogoti organ tubuh yang lain. Semakin lama, semakin parah.

Hingga akhirnya kita tidak bisa lagi lari. Bosan telah menyesaki semua ruang kosong di hati. Menunggu waktu untuk setiap kata yang selama ini tertahan muntah. Menunggu siapa yang terlebih dulu berinisiatif mengakhiri semua.

Rasanya begitu berat. Saat menyadari bahwa jeda adalah hal yang tidak ingin kita lakukan sekaligus menjadi hal kita butuhkan dalam memecah kebosanan.

Tapi kita benar-benar butuh jeda…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s