Sedikit Waktu Itu


Mungkin kita hanya terlambat menyadari bahwa sedikit kebersamaan yang pernah ada itu justru adalah satu dari beberapa masa yang paling berarti dalam hidup kita.

Dia teman sebayaku. Teman sekelas sejak kami duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama di Kota Jember. Kebersamaan―yang terasa begitu singkat itu―tidak melulu diisi dengan canda dan tawa. Sekelumit persaingan dan beberapa perselisihan kecil pernah kami lalui. Ya, dia saingan utamaku dalam hal prestasi di bidang akademik dan juga popularitas di sekolah. =)

Kami tergolong cukup dekat sebagai teman. Mungkin seharusnya bisa dikatakan lebih dari itu.

Sedikit bicara, banyak bergosip. Itu yang hampir selalu terjadi dalam sebuah pertemuan yang hanya terjadi maksimal setahun empat kali setelah lulus SMP.

Tapi entah mengapa, aku justru merasa belajar banyak hal darinya. Dan satu hal yang paling penting, aku sadar bahwa dia adalah salah satu sahabat terbaik yang pernah kumiliki.

Terpisah jauh dari ayahnya yang berkerja di Kalimatan dan ibunya―yang tetap tinggal di sebuah desa sekitar 40 km dari Kota Jember―justru membentuknya menjadi pribadi yang mandiri dan jauh dari kesan manja seorang anak bungsu. Dan jika sekarang aku sudah bisa menjadi lebih mandiri, sedikit banyak itu terjadi karena pengaruhnya.

Sama seperti cerita hidup orang lain, jalan hidupnya juga tidak selalu mulus. Beberapa masalah dengan segelintir orang, masalah dengan pendidikannya dan juga masalah percintaan. Tapi aku hampir tidak pernah mendengarnya mengeluh, setidaknya itu yang terjadi dalam setiap pertemuan kami. Mengeluh hanya akan membuat semua akan terasa semakin berat, mungkin itu prinsipnya.

Ada sedikit cerita tentang hubungan kami. Setahun yang lalu, kami mengalami sebuah kejadian yang tidak mengenakkan. Kejadian yang seharusnya tidak perlu terjadi jika aku memilih mengalah dan diam. Problem yang sebenarnya banyak dialami oleh dua orang perempuan yang katanya bersahabat. Ya, kami mencintai orang yang sama.

Dia mengatakan hal itu terlebih dulu padaku. Dan aku juga tidak tahu, setan mana yang merasukiku saat itu sampai aku memilih berpura-pura tidak tahu tentang hal itu. >_.<

Meski tidak ada sepatah kata pun yang terucap tentang persoalan itu, aku―yang sampai saat ini masih merasa bahwa diriku adalah orang yang jahat―memilih mundur dan memilih jalan yang sama dengannya. Aku dan dia sama-sama mengalah. Tapi satu kredit lebih pantas diberikannya padanya. Dia lebih tulus dan lebih rela mengorbankan perasaannya demi persabatan yang kami bangun dari pertemuan-pertemuan kecil.

Ah, sampai sekarang kami tak pernah membawa nama lelaki itu dalam setiap obrolan kami. Sama-sama menjaga hati, mungkin.

Sejak itu aku bersumpah, aku tidak akan menukarnya dengan apa pun juga. Teman yang menangis bersamaku saat aku mengalami sebuah masalah yang menyakitkan. Teman yang membuatku giat belajar hanya karena aku tak kalah darinya. Teman yang mengajarkanku bahwa tidak ada yang patut disesali dan berkata, “Ini hidup. Sepahit apapun, kita harus belajar memaknainya.” Teman yang selalu memberi semangat dan menarikku ke pantai setiap aku mengeluh bosan dan letih.

Mungkin, dia memang tidak selalu ada. Tapi paling tidak, dia membuatku belajar banyak dan berkata mantap, “Dia salah satu sahabat terbaikku.” :’)

*teruntuk: Elok Hidayah, one of the greatest friend ever. ☺

Advertisements

2 thoughts on “Sedikit Waktu Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s