Yang Terakhir


Lama tak menyapamu lewat tulisan. Bukan karena aku telah benar-benar mampu melupakan, tapi lebih karena tak ada satu atau dua hal yang bisa mengingatkanku padamu.

Tapi sekarang? Seperti yang kamu lihat. Ini mungkin menjadi kedua atau juga ketiga. Aku juga sudah lupa. Lebih tepatnya, aku memang ingin lupa. Hilang ingatan kalau perlu.

Hari ini, seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahunan berlarian riang menyusuri tepi Pantai Malikan. Postur tubuhnya mungil dan agak gendut mengingatkan padanya. Bukan! Bukan buah hatimu! Karena tak mungkin seseorang yang baru menikah selama kurang dari setahun sudah memiliki anak berusia tiga tahun. Hahah

Dia mirip dengan adikmu. Adikmu yang paling kecil. Kalau aku tak salah ingat, namanya Cindy bukan? :)

Aku masih ingat saat Cindy selalu menguntit setiap langkahmu dari belakang. Lalu bergelayut manja di pangkuanmu. Dan terkadang, kita mengajaknya dalam kencan kita hingga banyak orang yang mengira bahwa dia anak kita. So weird, but it was so fun. :D

Aku hanya bisa diam sejenak. Ternyata masih banyak hal yang bisa kuingat dari hubungan kita.

Tentang pertemuan pertama kita di kawasan terminal kota pada 6 Maret 2007. Lebih empat tahun yang lalu. Dan tentang perjalanan menembus derasnya hujan di kencan pertama.

Tapi aku masih ingat, tak banyak waktu yang bisa kita habiskan berdua selama dua tahun itu. Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu di ibukota. Dan aku juga sibuk dengan aktivitasku di kota kecil kita. Dua bulan sekali kamu pulang, tapi waktumu selalu habis bersama keluarga besarmu.

Aku bisa mengerti itu. Toh, aku juga sering datang ke rumahmu saat kamu libur. Dan keluargamu selalu menyambutku dengan hangat.

Oh ya, tepat pada hari ulang tahun-ku yang ke-22, ayahmu datang ke rumah. Aku baru tahu kalau dia mengenal ayahku. Tapi tetap saja takkan berpengaruh apa-apa pada hubungan kita berdua.

Dia sedikit bercerita tentang kehidupanmu sekarang. Meski masih tampak berhati-hati dalam memilih kata. Aku tahu kamu, ayahmu dan anggota keluargamu yang lain tak ingin melukaiku untuk kedua kalinya. *deep sigh*

Oh Tuhan, aku lupa menanyakan kabarmu. Kalimat yang seharusnya ada di paragraf pembuka surat, justru harus mengalah pada cerita-cerita itu. Hahaha

Apa kabarmu sekarang? Bertambah tinggikah dirimu? Masih kuruskah seperti dulu? Hhmmm, mestinya tak perlu kutanyakan itu. Dia, wanita yang sekarang mendampingimu itu, pasti lebih tahu bagaimana caranya mengurus dan membuatmu tersenyum sepanjang hari.

Dia tahu, karena dia sosok wanita yang cerdas. Dan yang lebih penting, dia dia dewasa. Satu-satunya sikap yang tak pernah kamu temukan dariku.
Kamu pasti bahagia.

Ya, tidak akan ada lagi penyangkalan dari bibirku. Aku sudah jauh lebih kuat sekarang. Meski terkadang, aku masih meneteskan air mataku saat mengingat semua.

Mungkin lebih baik memang begini. Bersamamu pun belum tentu membuatku bahagia. Begitu pun sebaliknya. Dan dengan begini, kita akan berhenti menyakiti satu sama lain. Itu lebih adil. Meski pada awalnya kita dan mereka berpikir ini takkan pernah adil bagiku.

Argghh, sudahlah. Membicarakan semua hanya membuat kita akan lebih sering menggunakan kata ‘seandainya’ di depan setiap kalimat yang kita ucapkan. Lebih baik aku akhiri saja. Akhiri perbincangan satu arah kita di sini.

Semoga kamu bahagia. Selalu…. :)

Untuk kamu, yang telah benar-benar hilang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s