Dua Puluh Tiga: Terima Kasih Untuk Semua

Waktu adalah pedang. Potong atau terpotong. ~ Hasan Al-Bana

Waktu. Satu hal yang tidak pernah bisa ditawar. Dan entah seberapa sering aku memikirnya, ia justru berlari jauh melebihi pikiran.

Rasanya seperti baru kemarin: duduk di pangkuan ayah dalam perjalanan dari Kota Jember menuju Malang atau sebaliknya, mengenakan seragam merah-putih dan kemudian bermetaformosa menjadi seorang remaja yang berani menempuh jarak lebih dari seribu kilometer sendirian. Continue reading “Dua Puluh Tiga: Terima Kasih Untuk Semua”

Dua Puluh Tiga

Dua puluh tiga adalah panjangnya waktu yang berlalu. Tentang perjalanan untuk mencari, mengerti dan kemudian memahami. Dan menulisi setiap lembar-lembar putih dengan cerita-cerita hidup, juga cerita hati.

Dua puluh tiga adalah beberapa do’a kecil yang terucap seusai dentang dua belas kali pada pergantian antara tanggal dua puluh empat dan dua puluh lima. Do’a untuk satu kehidupan di masa mendatang dan sebuah perjalanan biru yang tak pernah terbayang.
Continue reading “Dua Puluh Tiga”

Between Story and Memory

Pernah suatu ketika, secara tidak sengaja kamu mengajakku melewati satu kisah serupa. Satu hari di bawah deras hujan. Kita duduk berhadapan di samping sebuah jendela yang menghadap keluar: menggenggam secangkir latte panas, menghirup aroma manis kopi dan susu yang membaur dengan bau tanah tersiram hujan, mendengar alunan lembut serenade dari sebuah gramofon tua dan piringan hitamnya.

Sementara rintiknya semakin menderas, aku membiarkan kenangan itu mengisi sebuah ruang kosong dalam pikirku―sebuah kenangan tentang hujan. Serta mulai mengacuhkan kamu yang menunggu satu waktu untuk mengakhiri kebisuan menggantung di tengah kita.
Continue reading “Between Story and Memory”