Tentang Kalah


Hari ini, tepat setahun lalu, saya merasakan sebuah kekalahan dalam satu posisi yang menempatkan saya sebagai seorang suporter.

Soccer City Stadium di Afrika Selatan menjadi saksi bisu dari kekalahan itu, meskipun saya sendiri hanya bisa melihat dari layar kaca televisi. Menyaksikan tim kesayangan saya kalah, memupus harapan untuk melihat Gio mengangkat piala untuk pertama kalinya lalu menasbihkan hari itu menjadi salah satu hari terpahit dalam sejarah hidup saya.

Kata kalah memang bukan lagi hal asing bagi saya. Satu kata yang sebenarnya sederhana tapi tetap saja menimbulkan pergolakan batin yang kadang terlalu dalam. Memori setahun lalu memang bukan yang pertama, masih banyak rentetan kekalahan lain yang masih bisa saya ingat satu persatu. Sebut saja: kekalahan dalam lomba cerdas cermat dan pidato Bahasa Inggris, olimpiade kimia juga akuntansi bahkan kompetisi kecil-kecilan semisal lomba di acara HUT RI saat saya masih kanak-kanak atau kekalahan tim yang sama di semifinal EURO 2000 dan lain sebagainya. Dan yang terakhir, adalah kekalahan Rafael Nadal dari Novak Djokovic di final Wimbledon beberapa saat yang lalu.

Tapi kalah tetap saja kalah. Satu hal yang tetap akan menimbulkan kegetiran dalam hati juga sebuah rasa kecewa yang terselip di antara suka cita seorang lahirnya juara. Walau pun saya sadar, rasanya pasti akan lebih sakit jika saya berposisi sebagai lakon utama dalam sebuah kompetisi, bukan sebagai pihak luar yang tidak memiliki kontribusi apa-apa selain sebuah dukungan.

Kalah memberi kita kesempatan untuk belajar, begitu kata ayah saya sejak mengenalkan saya pada kompetisi. Belajar dari sebuah kesalahan kemudian memperbaikinya dan juga belajar untuk menerima.

Dan dari wejangan ayah itu, saya selalu mencoba melapangkan hati untuk menerima kekalahan apa pun bentuknya dan mengucapkan kata ‘selamat’ untuk pihak yang menang. Karena dengan begitu, seperti kata ayah dalam lain kesempatan, beban akibat kekalahan yang didera akan menguap dengan sendiri dan kekalahan akan membuat kita belajar lebih banyak hal daripada saat kita mengecap sebuah kemenangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s