Tiga Belas Waktu


“All these years, all these memories, there was you.” ~ The Fountain

Tiga belas. Dua deret angka yang membuatku tercenung memikirkan apa yang telah kulakukan selama tiga belas bulan terakhir. Dan jawabannya, tidak ada. Kecuali saat menghitung berjalannya waktu.

Kamu mungkin tidak akan menyadarinya. Namun hal sebaliknya akan terjadi jika aku bicara tentang memori yang kamu reguk, bukan kenangan yang terpatri di benakku. Tapi kukira, kamu tetap tidak akan peduli. Kamu memang bukan orang yang gemar menghitung waktu, ini yang membedakan aku dan kamu.

Jika aku masih terlalu sibuk menghitung berapa banyak waktu yang kulewatkan tanpa kehadiranmu setelah hari itu, kamu justru memandang hari ini dengan satu kenyataan: kita tidak lagi bisa menghabiskan waktu bersama.

Setahun setelah hari itu dan rasanya aku masih ingin tetap hidup dalam kenangan yang sama: pergi berdua bersamamu pada Sabtu Malam, menantang deras hujan, berbincang di sebuah kedai kopi juga mengisi malam dengan suaramu. Satu tahun telah menjadikan aku sebagai seorang perenung, setidaknya itu kata seorang temanku.

Dan, ya, satu kenyataan lagi yang sebenarnya terlalu enggan untuk kuakui, ruangan itu masih terkunci padamu. Seperti yang telah kukatakan tadi, selama tiga belas waktu berlalu aku tidak melakukan hal apapun. Meski sebenarnya bukan keinginanku untuk tetap bertahan pada pilihan yang tidak seharusnya dipertahankan.

Tapi kamu pasti kamu pasti begitu mengenal kalimat ini, cinta itu buta. Dan kurasa, ini yang terjadi padaku. Tanpa memendam harapan yang sama seperti dulu dan tanpa pikiran bahwa suatu saat kamu akan kembali, aku masih mencintaimu.

Sulit memang. Aku seperti terkesan tidak mampu untuk ‘move on’, bahkan beberapa orang justru berkata bahwa aku sebenarnya tidak mau melakukannya. Mana yang benar, aku sendiri tidak terlalu peduli.

Sepertinya aku masih butuh waktu yang lebih banyak lagi. Karena, kata mereka, seseorang membutuhkan waktu dua kali lebih lama untuk melupakan dari waktu yang mereka lewatkan saat bersama. Apa itu berarti aku membutuhkan waktu enam tahun untuk melupakanmu? Kuharap, tidak.

Atau mungkin juga aku harus benar-benar mengubur semua tentang kita dan membiarkannya berbaur dengan kenangan lain yang tidak mau kuingat kembali. Dan, seharusnya memang begitu. Ini terlihat lebih adil untukku daripada terus-menerus hidup dalam bayangan masa lalu yang getir.

Sungguh, terkadang aku menertawakan diriku sendiri. Begitu mudahnya aku jatuh padamu dan setelah itu aku merasa kesulitan untuk mengeluarkanmu dari hati. Sedang kamu bahkan tidak lagi peduli denganku. Bagaimana mungkin kamu mempedulikan orang di masa lalumu di saat kamu sudah memiliki kehidupan yang bisa dikatakan sempurna?

Tidak akan pernah. Mulai sekarang aku memang harus mencoba mengeluarkanmu dari sana. Mencari sebuah alasan logis yang tepat untuk membuatku berhenti. Dan kurasa, aku memang perlu belajar banyak darimu. Belajar untuk tidak lagi peduli pada masa lalu, juga untuk berhenti menghitung waktu.

Ini hanya masalah waktu dan suatu saat kita pasti menemukan tempat yang benar-benar tepat untuk berlabuh. Itu perkataanmu dulu.

Dan kalimat itu juga membuatku yakin, tempat itu bukan kamu. Karena itu yang telah benar-benar terjadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s