Dua Puluh Tiga


Dua puluh tiga adalah panjangnya waktu yang berlalu. Tentang perjalanan untuk mencari, mengerti dan kemudian memahami. Dan menulisi setiap lembar-lembar putih dengan cerita-cerita hidup, juga cerita hati.

Dua puluh tiga adalah beberapa do’a kecil yang terucap seusai dentang dua belas kali pada pergantian antara tanggal dua puluh empat dan dua puluh lima. Do’a untuk satu kehidupan di masa mendatang dan sebuah perjalanan biru yang tak pernah terbayang.

Dua puluh tiga adalah segelintir penyesalan karena seringnya menyia-nyiakan waktu. Kesempatan yang terbuang tanpa pernah terbersit rasa ingin untuk mencoba. Juga sebuah pekerjaan yang tidak kunjung selesai karena sibuk menunda-nunda.

Dua puluh tiga adalah serangkaian masa depan. Rangkaian gerbong kereta yang datang dan pergi. Musik-musik gothic, symphonic-metal dan country yang menemani hingga penghujung subuh. Menunggu pagi yang akan mengantarkan sebuah kebebasan penuh.

Dua puluh tiga adalah menyadari bahwa ada banyak hal kecil yang bisa membuatku bahagia. Duduk berlama-lama di hadapan laptop yang menyala, menatap senja, sepotong brownies dan roti keju, jus leci, secangkir kopi, mendengarkan musik, membaca buku sastra klasik, rekahan bunga anggrek, ice cream rasa vanilla, bintang, pagi, sepakbola, Rafael Nadal, fotografi, memutar DVD pada Sabtu serta… Terlalu banyak rupanya.

Dua puluh tiga adalah berhenti berharap tentang sebuah perayaan ulang tahun bersama. Berhenti menunggu sebuah ucapan dari seseorang yang tidak mungkin lagi kembali.

Dua puluh tiga adalah merajut kembali lembaran mimpi yang belum terkoyak. Masih sama utuh seperti kali pertama ia bermain dalam pikir. Museum van Gogh, Dam Square, Amsterdam Arena, Keukenhof Garden, Volendam juga Oudegracht.

Dua puluh tiga adalah mencoba mengerti, setiap perjalanan yang telah dan akan dijalani akan selalu memberi arti. Tidak peduli sepahit apa yang dikecap dan tidak peduli seperih apa, mencoba berhenti menghapus beberapa kenangan. Menjadikannya sebagai sebuah pembelajaran untuk satu kehidupan baru di depan.

Dua puluh tiga adalah mengumpulkan sedikit keberanian untuk mengatakan ‘tidak’. Memilih menjadi diri sendiri dan megikuti kata hati daripada sibuk memenuhi ekspektasi orang lain.

Dua puluh tiga adalah kembali mengingat hari-hari tertentu di mana hal-hal kecil yang terdengar bisa membuatku begitu bahagia, kemudian menyadari bahwa dengan begini―dengan hanya menjadi diri sendiri pun―aku sudah merasa dicintai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s