Dua Puluh Tiga: Terima Kasih Untuk Semua


Waktu adalah pedang. Potong atau terpotong. ~ Hasan Al-Bana

Waktu. Satu hal yang tidak pernah bisa ditawar. Dan entah seberapa sering aku memikirnya, ia justru berlari jauh melebihi pikiran.

Rasanya seperti baru kemarin: duduk di pangkuan ayah dalam perjalanan dari Kota Jember menuju Malang atau sebaliknya, mengenakan seragam merah-putih dan kemudian bermetaformosa menjadi seorang remaja yang berani menempuh jarak lebih dari seribu kilometer sendirian.

Sekarang, waktu merenggutnya kembali. Remaja bukan lagi kiasan yang pas untuk melukiskan seorang gadis berusia lebih dari dua puluh tahun. Waktu menunjukkan kedigdayaannya pada usia.

Dua puluh tiga. Dua deret angka yang menunjukkan betapa waktu sudah berlalu begitu cepatnya. Dan selama itu menghirup udara yang diciptakan-Nya. Menjalani takdir yang dititahkan-Nya: sebuah perjalanan hidup, lengkap pahit manis dan getirnya.

Di antaranya, terselip kepingan-kepingan cerita yang tidak lagi utuh saat dikenang; beberapa orang yang datang dan pergi; beberapa rasa dan momen yang abadi dalam untaian kata serta jepretan kamera; serta begitu banyak pemahaman tentang hidup yang dicuri dari lembaran-lembaran buku fiksi, buku filsafat, cerita teman juga dari perjalanan diri.

Hidup adalah belajar tentang banyak hal, begitu kata seseorang padaku. Karenanya, hingga kini pun, aku akan terus belajar: belajar memaknai setiap pertemuan dan perpisahan, belajar mengerti, belajar untuk bertahan dengan tumpukan kamus bahasa asing, belajar untuk terus mengabadikan perjalanan dalam untaian kata dan jepretan kamera―juga belajar tentang hal-hal kecil. Dan satu hal yang pasti adalah belajar untuk terus bermimpi, mulai melangkah, tetap belajar saat meraihnya dan begitu seterusnya.

Waktu selalu meninggalkan begitu banyak hal di belakang, sekaligus menjanjikan banyak kesempatan baru di depan. Selamat menua untuk diri.

Dan untuk semua ucapan yang tak sempat terbalaskan karena lebih kepada keterbatasan diri; sebuah catatan kecil di blog pribadi seorang teman; pesan-pesan di kotak masuk ponsel beserta do’a tentang sebuah kehidupan yang lebih baik dan do’a kecil yang mengamini keinginan diri untuk menjejakkan kaki di tanah Belanda, terima kasih banyak.

Sekali lagi, terima kasih. It means a lot to me. :)

Advertisements

2 thoughts on “Dua Puluh Tiga: Terima Kasih Untuk Semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s