Photograph


Mungkin aku masih bisa menikmati sepotong senyummu, seperti hari ini. Senyum yang sudah cukup menulariku untuk turut melengkungkan bibir seharian. Tidak peduli seberat apapun hari kulalui.

Tetapi senyummu terlalu sering bercerita tentang masa lalu. Membiarkanku mengisi waktu dengan mereguk setiap memorabilia kita.

Yang masih begitu segar kuingat, dulunya kamu sering mengajakku pergi ke tempat-tempat baru. Menemani kamu berdiri di suatu titik tertentu, tempat di mana kita bisa melihat seluruh hamparan pemandangan indah dari sana. Di saat aku seringkali berdiam diri dan menghirup udara dalam-dalam, kamu sibuk menekan tombol shutter pada kamera di tanganmu.

Senyummu mengembang saat berhenti sejenak untuk melihat hasil jepretanmu beberapa menit setelahnya. Kemudian kamu mengulangi hal sama: menangkap setiap objek yang terlebih dulu ditangkap mata, memandang cetak digitalnya lalu tersenyum.

Aku tidak mengganggumu. Itu alasan mengapa aku lebih memilih untuk diam. Kecuali pada satu waktu, saat aku iseng mengambil gambarmu saat kamu tengah tersenyum tipis dengan kamera hampir menempel di wajahmu. Saat kamu memergokiku, kamu menyeringai sembari mengacak rambut yang tak pernah kuikat.

Kita mungkin tidak akan pernah melewati hal yang sama untuk kedua kalinya. Dan karena itu, ada baiknya kita mengabadikan setiap momen yang terjadi dalam bentuk apapun. Begitu perkataanmu dulu.

Aku mengiyakan perkataanmu. Kemudian menyimpan fotomu dalam bingkai yang sama dengan foto kita berdua. Setidaknya, aku telah mengabadikan senyummu di sana. Menatapnya di saat-saat aku mulai merindukanmu ketika kamu pergi ke luar kota.

Dan semuanya memang tidak akan terulang lagi, persis seperti katamu.

Tidak ada lagi kamu yang mengajakku pergi ke tempat-tempat baru. Tidak ada lagi suara jepretan kamera yang kudengar di sela-sela kesibukanku menelusuri kata-kata dari buku-buku kegemaranku.

Di setiap waktu senggang, saat aku memandangi gambarmu di atas meja kerja, selalu aku meyakini hal yang sama: kamu mungkin saja lebih dari kenangan yang tak ingin kuhapus dari lembaran kisahku―juga hatiku. Yang sekaligus membuatku bersyukur―sekalipun kamu sudah pergi jauh ke tempat yang tak mungkin kusinggahi sekarang―aku masih bisa melihat senyummu yang dulu dan menyadari bahwa tidak ada yang berubah dengan rasaku.

Aku cinta kamu. Sama seperti dulu.

That’s why I should say that you are not only in my photos. Because you always live in my heart.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s