Blind


Seperti kataku dulu, kebahagiaanku terlalu sering datang dari hal-hal yang sederhana. Melakukan hal-hal kecil untuk memanjakan kamu dan membuat sesuatu untuk kamu, mungkin bisa kumasukkan di dalamnya.

Sama seperti kemarin, aku masih belum juga mengerti. Dan meskipun semua hal-hal remeh yang kulakukan untuk kamu sering kuanggap sebagai hal paling absurd, rasanya aku tidak pernah mau berhenti. Toh, kamu mungkin tidak akan pernah tahu. Bukan. Mungkin lebih tepatnya, aku tidak bisa membuat kamu menoleh sejenak ke arahku untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi padaku.

Tapi siapa yang peduli jika aku sendiri kerap memilih untuk tidak peduli? Siapa yang mau mencari jawabannya, sedangkan aku sendiri lebih senang menikmati prosesnya?

Mungkin kamu memang tak perlu tahu. Aku pun rasanya tidak perlu memberitahumu tentang hal ini. Lagi pula, kamu memang tidak pernah meminta apa-apa dariku. Kamu tidak memintaku menulis prosa dan puisi untukmu. Kamu tidak pernah meminta secara khusus agar aku menemani kamu menangkap senja di salah satu tempat yang kamu bilang punya angle sempurna. Kamu tidak perlu repot-repot mengirimiku pesan pada malam sebelumnya hanya untuk sekedar memintaku membangunkanmu lebih pagi, karena tanpa begitu pun, aku sudah tahu keseluruhan jadwalmu setiap harinya—bahkan hingga yang terkecil sekalipun. Dan aku, tidak pernah menunggu kamu mengucapkan kata berisi persetujuan untuk menyanyikan satu lagu di hadapanmu.

Jika begitu, saat kamu mendapatiku melakukan hal-hal yang kumaksud tadi—kecuali membaca setumpuk prosa dan puisi itu—kamu hanya akan tersenyum. Lalu berkata, bahwa aku adalah satu dari segelintir orang yang bisa membuatmu melupakan luka masa lalumu. Saat aku membalas senyummu dengan malu-malu, kamu mengusap rambutku perlahan. Dan saat itu juga aku merasa begitu lemah saat berada di hadapanmu. Lemah karena aku justru tidak mampu menujukkan apa yang aku tulis untuk kamu. Lemah karena aku tidak mau mengakhiri pertanyaan yang menggelayut di hatiku akhir-akhir ini dengan sebuah jawaban mengapa aku melakukan semua.

Ah, mungkin kita memang hanya teman dekat. Dan sepasang teman dekat memang akan selalu merasa nyaman melakukan apa pun tanpa harus diminta. Begitu jawaban yang pernah muncul di pikiranku. Tapi, rupanya jawaban itu tidak bisa kuterima dalam rentang waktu yang lama.

Kamu tidak pernah meminta apa-apa. Kamu memang tidak pernah meminta apa pun dariku. Hingga berkali-kali kukatakan itu pada diriku sendiri, aku justru sampai pada sebuah kesimpulan yang tidak pernah terlintas pada waktu-waktu sebelum kini. Satu kesimpulan yang lahir secara tidak sengaja, namun kurasa begitu masuk akal.

Dan hari ini juga aku mulai meyakini sekaligus menyadari: aku telah lama sampai di sebuah titik di mana Einstein pernah bertitah bahwa teori gravitasi sedikit pun tidak akan berpengaruh di sana, di mana rasa sakit hanya akan dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa dan juga titik di mana kesadaranku atas segala kegilaan yang kulakukan justru takkan pernah mampu membuatku berhenti.

Aku jatuh cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s