Learning to Say Goodbye


Aku tidak pernah berhenti memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Di antara kita, hanya ada dua pilihan: tetap bersama atau memutuskan untuk berpisah saat sampai di persimpangan. Aku bilang, pilihan akan selalu ada di tanganmu.

Saat kemarin lalu kamu memutuskan untuk tetap tinggal, aku merasa bahagia. Karena setidaknya kita akan tetap berada di jalur sama dalam rentang waktu yang tidak pernah kita tahu. Tapi kamu tentu tahu, di antara senangku ada rasa getir setiap memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadinya: kamu pergi.

Kita sama-sama tahu, waktu itu semakin dekat setiap harinya. Di saat kamu sibuk mempertimbangkan jalan mana yang akan kamu ambil, di saat yang sama aku belajar cara untuk melepas. Merelakan kamu pergi.

Aku selalu mencoba agar tetap sadar, cuma kamu yang berhak memutuskan: memilih tempat yang menurutmu lebih baik dan bisa membuat kamu belajar lebih banyak lagi. Meskipun kamu bilang, kamu bahagia di sini; kamu mencintai tempat ini dan, sebisa mungkin, kamu ingin lebih lama berada di sini.

Aku tidak mau kamu terkekang satu kesimpulan yang nantinya memberatkanmu: karena kamu bahagia di sini, maka dari itu kamu mau tetap di sini. Lalu kamu mengabaikan satu kesempatan lain yang kamu impikan, melewatkan sebuah peluang untuk belajar, menjadi lebih baik dan sebagainya.

Kamu berhak menjadi lebih. Dan karena itu, kamu pun juga berhak untuk pergi.

Aku tidak akan marah, sungguh. Sekalipun membayangkannya saja sudah cukup membuatku sakit. Tapi aku yakin, jika aku masih bisa melihatmu bahagia dan berhasil di sana, rasa sakit akan terus memudar seiring berjalannya waktu.

Seperti katamu, perpisahan seringkali memaksa kita belajar tentang banyak hal. Jika bagimu ini hanya belajar bagaimana caranya untuk pergi tanpa harus menyakiti hati orang yang mencintai kamu. Bagiku, ini adalah belajar bagaimana harus mengikhlaskan kamu tanpa perlu menyisakan rasa berat maupun penyesalan di hatiku―juga di hatimu―saat kamu melangkahkan menuju pintu dan keluar menuju tempat yang tidak lagi sama.

Aku tidak akan keberatan untuk turut berbahagia melihatmu berhasil di tempat barumu nanti. Melihat perkembanganmu meningkat pesat saat di sana.

Aku juga tidak akan berubah, aku janji. Jika pun kamu nanti terpuruk, aku akan tetap berada di belakangmu dan tetap mendukungmu. Sama seperti sekarang.

Aku tahu, hal ini yang tidak kamu inginkan untuk hilang dari hidupmu.

Kita sama-sama akan mencoba. Kita sama-sama masih perlu belajar dari sekarang. Agar nanti―jika waktu itu tiba―kita bisa menciptakan sebuah perpisahan yang indah. Yang meskipun akan tetap ada air mata di sana, aku tidak ragu lagi untuk berkata: “Selamat tinggal. Semoga kamu bahagia di sana.”, lengkap dengan seulas senyum tulus.

Sesederhana itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s