Random


Seperti kemarin-kemarin, masih ada banyak cara untuk melepas sedikit dari akumulasi rasa membebani jiwaku hari ini: menanti matahari terbit sembari meneguk secangkir cappucinno hangat, sepotong brownies bertabur keju, mendengar alunan lembut suara Adam Young, juga menjelajah dunia maya.

But, for me, the best way to get these feeling out is to write an unsent letter…

Dan saat aku memutuskan untuk menulis surat ini buat kamu, tidak ada ekspektasi apa-apa di hati. Tidak ada harapan bahwa kamu akan membacanya suatu hari nanti―ini sangat tidak mungkin, bukan? Aku cuma butuh satu media untuk meredakan kegalauan, kegelisahan juga dilema yang tiba-tiba menyerang begitu saja.

Aku pikir, mungkin nantinya ini akan terlihat berlebihan. Tapi siapa yang peduli? Terlebih aku juga tidak pernah terlalu memedulikan apa kata orang, apalagi jika menyangkut hal-hal absurd yang aku lakukan.

Aku hanya muak dengan sekian banyak spekulasi tentangmu yang kudengar dan kubaca. Dan mungkin baru kemarin malam aku mengerti mengapa di pertengahan Agustus kemarin kamu berharap agar 1 September cepat-cepat datang.

Tapi kamu salah. Nyatanya, selepas Agustus berakhir semua spekulasi itu masih santer terdengar. Dan satu di antaranya justru membuatku merasa berada di antara pilihan yang sulit. Dilema.

Sebenarnya ‘satu’ itu termasuk satu yang kuinginkan. Dan seharusnya, hal itu justru membuatku senang. Awalnya memang ‘iya’.

Ah entahlah, setelah membaca semua yang disampaikan orang-orang tentang yang satu itu, aku justru berubah menjadi egois. Pikiran agar kamu tetap tinggal dan tidak pergi hingga nanti kamu memutuskan untuk pensiun di tempatmu sekarang justru terlintas di pikiranku.

Bukan tanpa alasan memang. Beberapa di antara mereka mengeluarkan sebuah statement yang akhirnya mengubahku. Sedikit menyakitkan untukku.

Sekarang kamu pikir apa yang justru membuatku akhirnya berkata: ‘Ya sudah, mending stay saja di sana sampai pensiun sekalian. Ini lebih adil daripada harus melihat dia di tempat yang juga kumau, tapi dia CUMA AKAN menjadi keledai di kandang singa.’ selain kalimat ini: ‘Lumayan ntar bangku cadangan kita diisi sama pemain yang sama kerennya dengan pemain inti.’? -__-

Aku egois, bukan? Aku cuma tidak mau kamu jadi orang yang dianggap sebelah mata. Aku tidak mau kepindahan kamu justru mengurangi jumlah bermainmu secara drastis. Aku hanya tidak ingin kamu menjadi seorang benchwarmer―aku benci istilah ini.

Padahal aku tahu, kamu punya hak untuk belajar. Kamu punya hak untuk mengembangkan kemampuanmu. Kamu sangat berhak mengepakkan sayapmu lebih tinggi lagi.

Dan itu artinya, kamu berhak pergi.

Tapi sepertinya aku terlalu sentimentil, peka atau apa pun itu namanya. Setiap spekulasi itu selalu membuatku pusing, sedikit marah. Bahkan hanya dengan membayangkan kemungkinan kamu pergi sudah cukup membuatku sedih.

Ah, sudahlah. Lagipula masih ada beberapa bulan lagi jika kamu memutuskan pergi awal tahun nanti. Dan mulai sekarang aku akan belajar melepas kamu juga menerima kenyataan kalau nanti kamu benar-benar menjadi seorang benchwarmer.

Meski aku yakin jika hal terakhir itu tidak akan terjadi. ;) Aku tahu kamu. Aku juga tahu kamu punya kualitas yang jauh di atas rata-rata.

Dan kalau pun itu sampai terjadi, aku akan tetap mendukung kamu. Itu berlaku di mana pun tempatmu nanti akan memijakkan kaki. You don’t know how much I love you, Jan. :P

Je vous aime beaucoup, Jan. Jamais je ne t’oublierai. ;)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s