Unsent Letters


I’ll write to you. A super-long letter, like an-old-fashioned novel. ~ Haruki Murakami

Beberapa saat lalu, aku menulis satu surat untuk kamu. Satu surat penuh keluh kesah.

Di sana, aku menulis tentang satu kegelisahan yang tiba-tiba menyergap hanya karena hal sepele. Sebuah cerita absurd yang tidak mau aku bagi dengan orang lain. Dengan kata lain, aku cuma ingin kamu yang tahu.

Lalu aku melipatnya, kali ini cuma ada beberapa lembar kertas yang berhasil kutulisi. Memasukkannya ke dalam sebuah amplop berwarna biru dan menyimpannya dalam sebuah kotak pandora―begitu aku menyebutnya.

Ada banyak tumpukan surat di dalamnya. Surat yang aku tulis pada sebuah waktu senggang setiap harinya. Dalam setiap amplopnya, berisi cerita yang berbeda: ada sebuah kehilangan yang pahit, rasa sepi yang menusuk, hasil pertandingan sepakbola semalam, buku yang baru selesai kubaca, musik yang baru didengar, perjalanan jauh yang kutempuh, hujan, pelangi, juga foto senja yang kuambil untuk kamu.

Aku selalu bilang, aku akan terus melakukannya. Meski pada akhirnya, tidak ada satu pun dari surat-surat yang kukirimkan padamu.

Aku hanya menunggu. Menunggu waktu untuk satu pertemuan lagi, pertemuan yang membawa kita pada satu babak baru dalam hidup. Kemudian kita duduk di sebuah kursi kayu di belakang rumah kita pada suatu sore yang tenang, di antara ingar bingar ocehan anak kecil di depan kita.

Dan kita akan membacanya bersama-sama sambil menikmati senja di tempat yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s