Jarak


Sabtu pagi. Kurasa, aku tak perlu lagi memikirkan bagaimana harus kulewati malam nanti. Aku pun tidak perlu uring-uringan jika kamu tidak menelepon atau mengirimiku pesan berisi sebuah ajakan.

Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku pun tidak akan lagi mempermasalahkan jika nanti kamu tidak pulang dan mengetuk pintu rumahku.

Karena sepertinya, aku sudah terbiasa melewati malamku sendiri. Aku juga tidak pernah lagi merasa sepi―setumpuk manuskrip klasik dan Murakami, juga sejumlah pertandingan sepakbola, sudah cukup membuat malamku terasa sedikit ramai. Walau masih saja aku menginginkan kamu ada disini dan mengajakku pergi untuk mengamati langit malam.

Lalu jika kamu tiba-tiba menelepon dan bertanya apa yang sedang kulakukan, aku akan menjawab: aku tengah berkencan dengan tokoh rekaan Murakami atau dengan pemain bola di televisi. Kamu hanya akan tertawa sebentar, dan kemudian kamu mengucapkan satu kata maaf yang terlalu sering kamu ucapkan di tengah-tengah perbincangan kita.

Padahal aku sudah berkali-kali bilang, ini bukan salahmu dan selamanya tidak akan pernah menjadi salahmu. Jarak memang masih menjadi satu hal yang tidak bisa ditawar, tapi toh kita masih bisa berdamai dengannya. Lagipula, jarak kita hanya sebatas daun telinga dengan ponsel di tangan.

Dan jika kita merasa rindu, kita hanya cukup mengambil ponsel; mencari satu nomer lalu menekan tombol ‘call’. Hanya beberapa saat setelah nada sambung pertama terdengar, kita sudah akan berbincang hingga kita sama-sama tidak sadar bahwa pagi menjelang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s