Kalau


Mungkin saat ini kamu tengah duduk menghadap ke luar jendela sembari menopang dagu. Menatap titik-titik embun, yang menempel di kaca jendela, mencair dan kemudian membentuk aliran sungai kecil di sana.

Mungkin juga kini kamu tengah membenamkan wajahmu di atas bantal, mengumpat dengan gumpalan perasaan menyakitkan di hati. Kamu bersedih, dan kamu berduka.

Dan jika kamu begitu, aku pun bisa turut merasakan rasa getir yang sama. Meski ini mungkin hanya seperseratus atau seribu dari apa yang kamu rasakan, namun rasanya tetap saja pahit dan menyakitkan.

Kamu pasti kesakitan sekarang. Sedang aku, juga orang-orang yang lain, cuma bisa membayangkan bagaimana sakitnya.

Terkadang aku berpikir, kalau saja rasa simpati dari orang lain bisa membuat kamu merasa lebih baik, aku ikhlas meski harus bersimpati padamu setiap hari―bahkan setiap detik. Dengan begitu, mungkin aku bisa mengurangi sakitmu sedikit demi sedikit. Lalu nantinya kamu akan sembuh total dan berlarian seperti biasa.

Atau jika tidak, aku akan pergi ke tempatmu saat ini. Memberimu sebuah surat berisi dukungan untuk kamu. Memberimu sebuah puisi yang aku tulis saat kamu genap dua puluh lima tahun. Juga berkata padamu: di luaran sana, hampir seluruh orang berdoa untuk kesembuhanmu atau mendoakan yang terbaik buat kamu.

Tapi sayangnya, kita harus terbentur pada satu kenyataan bahwa ada jarak ribuan mil yang terbentang di antara kita. Aku di sini, dan kamu ada di sana.

Meski aku selalu bilang: jarak itu sebenarnya bukan sebuah masalah yang besar. Tapi jarak hanya menipiskan kemungkinan untuk kita berdiri pada satu titik yang sama, bertatap muka, lalu saling melempar senyum dan berkata: “Hei, namaku A. Senang bisa bertemu dan berkenalan denganmu.” Kemudian kita akan bersama-sama menyusuri sebuah pedistrian ternama dan mulai bercerita tentang kehidupan sebelum kita bertemu, berbincang tentang kegemaran kita―kamu berkisah tentangmu masa kecilmu dulu, keluargamu, sedang aku akan bercerita tentang buku-buku roman klasik atau buku karya Murakami.

Jarak hanya mengecilkan kemungkinan itu dan takdir yang akan menghapuskannya nanti.

Dan yang bisa kulakukan sekarang, hanyalah membiarkan pikiranku mengembara jauh ke tempatmu. Membiarkan jemariku berlompatan sambil sesekali mengintip sebuah tab google chrome dengan harapan akan ada sebuah kabar yang membawa berita bahwa kamu sudah jauh lebih baik.

Ah iya, aku memang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa menghiburmu, tidak bisa menemuimu, dan aku bahkan tidak bisa mengirimkan surat berisi rasa simpati, peduli serta harapanku akan kesembuhan kamu.

Aku cuma bisa berkhayal, membayangkan sekarang kita duduk berhadapan di sebuah tempat terbuka sambil sesekali meneguk secangkir espresso yang masih tidak sepahit kenyataan. Kamu mengeluarkan semua keluh kesahmu, mengungkapkan kekesalanmu dan kesedihanmu akan tragedi kemarin. Dan aku akan mendengarkanmu dengan penuh rasa sabar, membiarkan kamu menumpahkan setiap perasaanmu dan kemudian menyodorkan sebuah sapu tangan untuk mehapus cairan bening yang mulai menggantung di sudut matamu.

Ketika kamu mulai sedikit tenang, aku akan berkata bahwa sebenarnya kamu tidak perlu terlalu larut dalam kesedihan. Karena entah bagaimana caranya, energi kesedihan yang kamu lepas nantinya akan kembali padamu dalam jumlah yang sama besarnya. Dan itu akan membuatmu semakin merasa terpukul―atau bisa juga semakin membenci kenyataan.

Toh dulu kamu pernah bilang, tidak ada satu hal pun yang telah terjadi patut untuk disesali. Dan jika sekarang kamu terlanjur merasa hancur, kamu hanya perlu membangkitkan energi positif dalam dirimu, menyingkirkan separuh dari kesedihanmu dan menarik bibirmu agar membentuk satu senyum yang telah seharian ini hilang. Itu akan bisa membantumu untuk merasa sedikit lebih baik.

Kalau saja…

Advertisements

2 thoughts on “Kalau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s