Rindu


Aku mungkin salah, jika selama ini menganggap aku bisa dengan mudahnya melupakan kamu. Dan saat semalam kamu tiba-tiba hadir, aku sadar bahwa ada bagian dari hatiku yang merindukan kamu. Iya, aku baru sadar. Aku kangen. Teramat kangen malahan.

And maybe, you don’t know how much I miss you.

Padahal kupikir di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Kita tidak pernah bertemu lagi dari kurun waktu yang tidak sebentar. Enam bulan, mungkin.

Tapi, seperti kubilang tadi, aku salah.

Kamu mungkin sudah tidak peduli padaku. Dan aku juga tidak mau peduli pada kemungkinan itu, karena bagaimana pun aku juga telah bersikap sedikit apatis pada hubungan kita. Terlebih, sekarang kita punya kehidupan masing-masing yang tidak bersinggungan satu sama lain.

Aku cuma merindukan kamu. Kangen. Sederhana bukan? Meski ini seperti menunjukkan bahwa aku tidak bisa move on. Toh, kenyataannya aku memang belum bisa dengan mudahnya membuka hati. Kamu tahu sendiri, aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Walau pada satu kesempatan, aku justru terkesan begitu mudah untuk bilang cinta. Karena aku selalu mengalami apa yang dibilang orang love at the first sight, yang dengan mudahnya setelah satu pertemuan pertama aku berkata: yes, he’s the one. Dan kamu adalah satu dari segelintir orang-orang itu. Segelintir orang yang mampu membuatku jatuh cinta dengan mudah, lalu mengisi hatiku lebih dari dua tahun.

Dan rindu ini melenakanku, membuatku lupa bahwa seharusnya rasa ini tidak perlu hadir. Sedikit pun seharusnya tidak. Rasa ini tidak mampu menjanjikan apa-apa selain sekotak kenangan yang telah berusaha kita kubur bersama-sama. Kenangan yang pada akhirnya hanya akan membuatku mood-ku sedikit berantakan.

Kamu memang tidak perlu tahu bahwa aku tengah merindu kamu. Pun jika aku menulis ini, aku yakin kamu tidak akan membacanya. Kamu bukan lagi orang yang kuberi berlembar-lembar tulisanku untuk kamu baca, tidak lagi sejak dua tahun lalu. Hubungan kita sudah putus sejak lama. Kita kini bagaikan dua orang yang tidak saling mengenal dan tidak pernah saling berjabat tangan untuk memperkenalkan diri. Kita bukan orang yang dulu nyaris memutuskan untuk hidup bersama, lalu tidak lagi berjalan beriringan sesudahnya.

Hingga sejauh ini, aku pun mulai bertanya-tanya mengapa aku menulis ini jika kamu tidak akan pernah tahu. Sedang aku sendiri juga tahu diri untuk tidak berusaha membuat kamu tahu.

Entahlah, sepertinya aku hanya ingin menuangkan rinduku di sini. Yang kuharap dengan selesainya aku membubuhkan titik terakhir, rindu itu akan habis untukmu. Tak lagi tersisa sedikit pun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s