Sekeping Ingatan


Waktu memang sudah jauh berlalu sejak saat itu. Sudah sepuluh tahun yang lalu, dan sedikit pun aku tidak pernah bisa lupa.

Mungkin kamu memang bukan tipe orang yang bisa dengan mudah dilupakan. Atau, mungkin kamu satu di antara segelintir orang yang mampu memberikan satu kesan mendalam untukku.

Tahun 2001. Siang itu, aku lupa hari dan tanggal berapa tepatnya, pertemuan kita terjadi di kotaku. Satu hal yang kuingat, saat itu kamu beserta rombonganmu sedang dalam perjalanan kembali dari Tengger dan terjebak sebuah kemacetan di jalan raya dekat gang rumahku.

Aku hampir tiga belas tahun saat itu dan kamu, entahlah, aku tak tahu. Aku hanya mengira-ngira kamu dua-tiga tahun lebih tua dariku.

Kita hanya tidak sengaja terlibat sebuah perbincangan―jika memang bisa kusebut demikian. Kamu dari atas bus, dan aku yang tengah duduk di sebuah kursi kayu di depan rumah seorang temanku yang pas berada di tepi jalan raya.

Rasanya malu sekali jika mengingat bagaimana awalnya. Seperti membuka satu aib kecil yang tidak pernah kuceritakan pada orang lain. Aku dengan memakai celana pendek beserta cara dudukku yang kurang sopan. Tak perlu secara gamblang menceritakannya, bukan?

Tapi dari sana, ‘perbincangan’ kita terjadi. Kamu mengetuk kaca jendela bus agak keras hingga membuatku mau tidak mau aku ke arahmu. Aku terperangah, sungguh. Bukan karena wajahmu yang manis, seperti kata temanku waktu itu. Tapi lebih pada bagaimana kamu memberitahuku tentang cara dudukku.

Hanya sebuah isyarat kecil, dan aku langsung mengerti dalam sekali―aneh bagiku, karena aku bukan orang yang mudah memahami bahasa isyarat. Dan aku berhasil waktu itu, berhasil memahami kamu. Memahami tanda yang kamu kirimkan untukku.

Aku tersenyum kecil, sedikit malu. Lalu mengucapkan terima kasih sambil sedikit berteriak. Dan kamu… Ah, kamu melemparkan sebuah senyum yang sudah cukup menggambarkan kehangatanmu.

Komunikasi kita masih berlanjut, meski hanya sebatas gerakan tangan dan bibir. Perbincangan kita hanya sekedar itu membicarakan penyebab kemacetan, dan kemudian melempar senyum.

Tak sampai sepuluh menit. Terlalu sebentar saat kamu kemudian melambaikan tangan, bus yang kamu tumpangi berjalan perlahan hingga akhirnya menghilang sepenuhnya dari pandanganku. Membawa kamu pergi.

Kamu mungkin lupa, karena pertemuan semacam ini pasti sering kamu alami. Tapi untukku, jawabannya adalah tidak. Sepuluh tahun nyatanya tidak mampu menghapus ingatanku tentang kamu. Setiap detil kejadiannya pun masih bisa kuingat dengan jelas.

Andai kamu tahu, tiga tahun berturut-turut sejak hari itu aku berharap waktu akan berbaik hati untuk mempertemukan kita sekali lagi. Upacara Kasada yang hanya setahun sekali itu menjadi satu-satunya harapanku. Aku menunggu, menunggu satu bus dengan kamu yang duduk nyaman di dalamnya. Meski hasilnya tetap sama, nihil.

Hanya tiga tahun. Dan setelah itu, dengan sedikit tepaksa, aku memutuskan untuk tidak menunggu kamu lagi. Meski nyatanya aku begitu ingin bertemu kamu. Tapi kamu pasti tahu bagaimana kesibukan seorang pelajar Sekolah Menengah Atas di dua tahun menjelang akhir pendidikannya.

Aku tidak lupa, tidak pernah. Bahkan setiap mendengar, bicara, menuliskan dan membaca kata ‘Bali’ pikiranku langsung tertuju padamu. Sebut aku terlalu melankolis, tapi memang itu yang terjadi. Dan kata Bali kembali menjadi alasan kenapa mengingat kamu dan menulis ini sekarang.

Gempanya cukup besar, bukan? Kamu pasti lebih merasakan kekuatannya daripada aku. Tempat tinggalmu jauh lebih dekat dengan pusat gempa. Sedangkan getaran yang kurasakan di sini―di Jember, kota tempat kita pernah bertemu―sudah cukup membuatku kaget dan merasa sedikit mual.

Apa kamu baik-baik saja? Keluargamu, teman-temanmu? Semoga di sana kamu akan menjawab: ‘ya, aku baik-baik saja.’ meski aku tetap tidak akan pernah mendengar jawaban darimu.

Aku cuma bisa berharap, waktu sudi memberi kita satu kesempatan sekali lagi. Setidaknya dengan begitu, aku bisa tahu siapa namamu. Kita akan saling berhadapan dengan jarak yang memisahkan kita hanya sejengkal, kita berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri―hal yang tidak sempat kita lakukan sepuluh tahun lalu.

Jika tidak, aku pun tidak akan merasa keberatan. Mungkin kamu adalah orang hanya kutemui sekali dalam hidup, tapi mampu membuatku sedikit melakukan perubahan. Aku sudah tidak lagi memakai celana yang terlalu pendek sekarang, kecuali di rumah. Dan aku pun mulai memperbaiki cara duduk sejak hari itu.

Tapi jika reinkarnasi itu ada dan kita dilahirkan kembali, aku ingin punya sedikit waktu lebih bersama kamu. Aku ingin mengenal kamu lebih banyak, meski nanti akhirnya mungkin akan sama saja. Boleh kan? Kuharap kamu tidak keberatan sedikit pun. I wish!

Aku percaya bahwa ada orang yang mungkin hanya kita temui sekali seumur hidup, tapi mampu membuat satu kesan yang begitu mendalam di hati; juga mengubah hidup kita selamanya. Dan bagiku, orang itu kamu.

Advertisements

2 thoughts on “Sekeping Ingatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s