Oktober Kedua


Oktober kedua. Kurasa aku tidak perlu lagi menghabiskan malam hanya untuk berpikir apakah kamu akan kembali. Aku pun tidak akan lagi menoleh ke belakang untuk melihat apa kamu menyusulku.

Sepertinya aku sudah terbiasa dengan kesendirian ini. Meski dulu aku pernah bilang padamu, aku takut untuk sendiri. Tapi nyatanya, sendiri membuatku sedikit lebih berani. Sendiri membuatku tidak perlu lagi pusing dengan kemungkinan apakah kamu akan marah jika aku terlalu asyik tenggelam dalam duniaku; apakah kamu kecewa jika kamu merasa diabaikan dan dilupakan. Sendiri juga membuatku menyadari satu hal, ada banyak hal yang bisa kulalukan hanya dengan sendiri.

Sendiriku memang tidak pernah sepi. Sendiriku cuma karena kita memutuskan untuk tidak akan berjalan bersama lagi dalam sebuah perjalanan di masa yang akan datang. Saat kita bersepakat untuk berhenti menyakiti satu sama lain.

Aku masih punya sekotak penuh kebahagiaan yang bisa kudapatkan dari hal-hal kecil yang dulunya begitu sering kuacuhkan. Aku masih bisa berteman dengan buku-buku Murakami; musik-musik Owl City atau Coldplay; dengan Sabtu malam berisi obrolan panjang dalam sebuah chat yahoo messenger bersama teman lama.

Kamu tidak perlu takut aku akan lupa padamu. Aku masih tetap menyediakan satu tempat untuk kamu, dalam satu kotak kecil kenangan kita―bagian yang hanya akan menjadi milik kamu.

Aku cuma berhenti untuk menunggu kamu. Itu saja. Karena sepertinya kamu hanya satu dari beberapa orang yang sempat singgah dalam kehidupanku, tapi tak pernah ditakdirkan untuk kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s