Stranger

Apakah itu kamu―yang akhir-akhir ini menyusup masuk ke dalam dunia di antara lelapku?

Dan aku termenung. Memikirkan apa yang terjadi dalam alam bawah sadarku.

Ada dua cangkir kopi mengepul tersaji di atas meja, ada sebuah buku yang belum pernah kulihat tergeletak manis di sebelahnya. Serenade-serenade yang mengalun lembut dari piringan hitam dengan jarum yang terseret-seret. Continue reading “Stranger”

A Little Room

“Everyone of us is losing something precious to us. Lost opportunities, lost possibilities, feeling that we never get back again. That’s part of what it means to be alive. *

Terkadang aku bertanya-tanya, sampai kapan kita ditakdirkan untuk menjalani waktu bersama. Katamu, membicarakan sebuah perpisahan bukanlah sebuah perkara mudah. Perpisahan, seperti halnya kehilangan, akan selalu meninggalkan getir saat mengingatnya. Tapi kita sama-sama tahu: saat membuka mata di pagi hari, waktu yang kita punya telah berkurang sehari tanpa tahu seberapa banyak waktu yang tersisa.
Continue reading “A Little Room”

If You Were Mine

If you were mine, then I wouldn’t want to go to heaven.

Dan aku ingin membagi sepotong senja untuk kamu. Senja berwarna jingga keemasan di kaki langit yang mampu memberi kamu rasa teduh. Senja yang akan mengikis rasa lelah di wajahmu dengan warna langit meredup dan membuat senyummu merekah bersamaan dengan suara jepretan kamera di tangan. Continue reading “If You Were Mine”