If You Were Mine


If you were mine, then I wouldn’t want to go to heaven.

Dan aku ingin membagi sepotong senja untuk kamu. Senja berwarna jingga keemasan di kaki langit yang mampu memberi kamu rasa teduh. Senja yang akan mengikis rasa lelah di wajahmu dengan warna langit meredup dan membuat senyummu merekah bersamaan dengan suara jepretan kamera di tangan.

Kemudian, aku akan mengajakmu melangkah keluar dari ruangan tempat kamu berdiri menatap senja. Menarik kamu menuju sebuah tanah lapang di ujung sana. Mengajak kamu duduk di bawah sebuah pohon pinus dan kita akan mengagumi senja bersama serta mengamati anak-anak kecil berlarian mengejar bola.

Dengan sekantung keripik kentang dan soft drink, kita akan mulai berbagi seperti biasa: bercerita tentang hari-hari sibuk di hadapan setumpuk arsip yang hampir membuat kita gila, tentang pertandingan bola di daratan Eropa sana, pameran fotografi kegemaranmu, novel-novel klasik di rak jauh, musik-musik Owl City dan Coldplay, hingga hal-hal kecil yang tidak penting. Pada satu kesempatan, kita tertawa saat membahas kembali pertemuan konyol kita juga peristiwa sehari-hari yang sebenarnya tidak lucu.

Lalu saat sudah merasa sedikit bosan, kita akan sama-sama bangkit untuk pulang. Menutup kebersamaan kita dengan lengkungan manis di bibir dan kemudian mulai menyadari bahwa langit sudah meredup. Sedari tadi.

BLOGGER CONTEST “IF YOU WERE MINE” a novel by Clara Canceriana

Advertisements

3 thoughts on “If You Were Mine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s