Surat Akhir Tahun

“This is a new year. A new beginning. And things will change.” ~ Taylor Swift

Kalau ada hal yang tidak kuinginkan untuk berubah, itu adalah mimpi kecilku tentang Belanda. Dan, kamu.

Meski hingga tiga ratus enam puluh lima hari yang berlalu masih tetap sama―kita belum juga berjalan beriringan, duduk bersama sambil menyesap kopi, atau berdiri bersisian―aku tetap menuliskan semua perjalananku pada beberapa surat panjang, dan memotret benda-benda dan kejadian lucu. Kamu mungkin akan berkata, bahwa setahun kemarin, aku selalu memiliki waktu luang untuk melakukan hal remeh seperti ini. Aku bilang, aku cuma tidak ingin lupa. Lupa pada setiap momen-momen yang sebenarnya sudah cukup membuat kita bahagia dan merasa bangga, adalah satu dari beberapa kehilangan yang menyedihkan. Mungkin, aku bisa kembali teringat pada satu waktu. Kenangan bisa menyeruak kapan saja, di mana saja. Tapi, bukannya aku tetap tidak bisa memilih kenangan mana yang akan tiba-tiba muncul di pikiranku―kenangan yang memaksa untuk diingat?
Continue reading “Surat Akhir Tahun”

Ketika Hujan [5]

Aku selalu menyukai hujan di pagi hari. Hujan yang membuatku terpaksa melipat ujung bawah celanaku sampai hampir selutut, dan berjalan sambil melompat-lompat kecil untuk menghindari kubangan air berwarna keruh saat berangkat kerja. Dengan sebuah payung di tangan, aku bisa berjalan menuju halte terdekat―memainkan tetesan air hujan yang jatuh dari ujung-ujung kawat pengaitnya. Kemudian, aku pun bisa mendengar omelan dan suara gerutuan orang-orang tentang tetesan air yang menurut mereka datang terlalu pagi.
Continue reading “Ketika Hujan [5]”

Untitled

Selamat siang, Ibuku sayang. Mungkin surat ini takkan pernah sampai padamu, takkan terbaca meski hanya segaris kalimat. Bukannya tak ada jalan untuk mewujudkannya, hanya saja aku terlalu malu—atau tepatnya gengsi—untuk menyerahkannya padamu, membiarkan kau membacanya.

Dua puluh tiga tahun lebih lima bulan. Dan selama itu kita berbagi udara yang sama, berpijak di bumi yang sama. Waktu sudah jauh berjalan, bukan? Aku sendiri merasa demikian. Ini terlalu cepat.
Continue reading “Untitled”

Ketika Hujan [4]

Aku jatuh cinta pada hujan. Tiga tahun lalu, sekeping kenangan membuatku selalu merindukan saat-saat melebur bersama derasnya; melompati sebuah genangan air di jalanan berlubang, dan membiarkan air bercipratan tak tentu arah. Meski terlalu banyak yang berkata bahwa yang kurindukan bukan hanya bermain hujan, tapi juga kamu.

Dan aku hanya mengiyakannya. Sedikit. Bahwa waktu itu adalah satu dari sekian banyak kenangan yang tak ingin kuhapus, itu tidak salah. Tapi, di satu sisi, aku pun tak pernah mau terus-menerus mengingatnya kembali. Walau terkadang kenangan bermain hujan bersamamu pada waktu itu seringkali menguar begitu saja saat jarum-jarum kecil airnya menumbuki kaca jendela di sebelah kanan meja kerjaku.
Continue reading “Ketika Hujan [4]”

Ketika Hujan [3]

Dan aku pun mulai meyakini satu hal yang tak pernah ingin untuk kuyakini.

Saat itu, tanpa sengaja kita kembali bersinggungan. Di sebuah pertigaan kecil dalam hidup. Persinggungan yang tak pernah kubayangkan.

Satu hari hujan saat kudengar seseorang memanggil namamu. Di antara riuh kendaraan yang menyatu dengan suara rintik hujan, kita saling menoleh. Bertukar pandang. Tak sampai dua puluh detik, lalu sama-sama membuang wajah.
Continue reading “Ketika Hujan [3]”