I Will


Hei, Will, apa kabarmu sekarang? Masihkah kamu berkutat dengan bermacam percobaan di laboratorium, teori-teori Fisika yang begitu rumit untuk kumengerti?

Sudah empat belas bulan sejak hari itu–sebuah pertemuan dengan tanda kutip yang mengapit. Dan ternyata, bukan hal mudah untukku menghilangkan kamu dari sini. Pikiranku.

Jika kulihat ke belakang, aku akan kembali tenggelam pada satu titik di mana aku mulai mengagumi. Aku masih ingat, saat kamu dengan yakinnya berkata bahwa suatu hari nanti kamu akan membangun pembangkit tenaga nuklir-mu sendiri–correct me if I’m wrong. Kecintaanmu pada Fisika itu, Will, juga keyakinanmu pada setiap mimpimu. Dua hal yang membuatku tak berhenti mengagumimu. Dan hal yang terakhir, telah mengembalikan mimpi-mimpi lama yang telah kukubur dalam. Maksudku, melihatmu dan rasa percayamu itu, membuatku sadar bahwa sebenarnya tak pantas jika aku menyerah begitu saja tanpa pernah berusaha mencoba.

Rasanya sedikit aneh kamu bisa mempengaruhi pandanganku pada impian–atau apalah namanya. Tapi, Will, aku percaya, kehadiran seseorang dalam hidup kita selalu ada maksud dan tujuan tersendiri. Bahkan pada orang yang menyakiti kita dan membuat hidup kita terasa ‘berat’ pun sebenarnya membuat pribadi kita menjadi lebih kuat–pernah dengar kalimat ini: what didn’t kill you only make you stronger?

Aku membuat beberapa kelompok, memasukkan nama-nama mereka di dalamnya. Beberapa masuk dalam katagori di atas. Ada banyak yang kumasukkan dalam satu kelompok yang tak kuberi nama–ini untuk orang-orang yang hanya datang hanya untuk sekedar singgah dan pergi tanpa menyisakan apa-apa selain sebuah nama. (Sebentar, tak perlu kusebutkan kelompok-kelompok itu satu per satu bukan?)

Kamu masuk di antara segelintir orang yang sanggup membuatku terkesan begitu dalam. Kelompok orang yang hanya dengan melihat, mendengar atau merasakan satu hal bisa langsung membuatku teringat pada mereka. Satu di antara kalian ada yang hanya sekali kutemui selama hidup, bahkan beberapa tidak pernah kutemui sama sekali. Aku punya alasan untuk itu. Orang tidak perlu bertemu dengan seorang Zinedine Zidane untuk bisa terinspirasi karenanya. Kita hanya perlu tahu seperti apa dia, juga jalan hidupnya, dan kita sendiri yang memutuskan di kelompok mana dia akan ditempatkan.

Aku tahu, Will, aku bukan orang yang pandai mengungkapkan perasaan dan memainkan kata-kata. Aku bukan tipe orang yang romantis. Pun ini tak pantas disebut sebuah surat cinta–apa sebelumnya kamu pernah membaca surat, maksudku coretan, absurd seperti ini? But for now, it’s enough. Setidaknya ini sudah cukup mewakili apa yang ingin kukatakan.

Terima kasih atas keyakinanmu akan mimpi-mimpimu itu. Kalau ada orang yang mungkin hanya kutemui sekali seumur hidup tapi bisa mengubah hidupku selamanya, kamu termasuk di dalamnya.

Sincerely, gadis yang tengah jatuh bangun mengejar mimpi masa kanak-kanaknya.

P.S: Semalam, saat aku menengadahkan kepala untuk memandang langit, aku teringat Champagne Supernova milik Oasis itu. Dan aku paham kenapa aku selalu menjadi sentimentil setiap melihat gugusan bintang di sana. Bukan karena aku percaya akan ada reinkarnasi. Tapi karena bintang-bintang itu membuatku sadar: terkadang kita harus dipisahkan secara ‘paksa’ untuk bisa tahu bahwa ada hal-hal yang akan tetap terlihat indah meski dari kejauhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s