Ketika Hujan [4]


Aku jatuh cinta pada hujan. Tiga tahun lalu, sekeping kenangan membuatku selalu merindukan saat-saat melebur bersama derasnya; melompati sebuah genangan air di jalanan berlubang, dan membiarkan air bercipratan tak tentu arah. Meski terlalu banyak yang berkata bahwa yang kurindukan bukan hanya bermain hujan, tapi juga kamu.

Dan aku hanya mengiyakannya. Sedikit. Bahwa waktu itu adalah satu dari sekian banyak kenangan yang tak ingin kuhapus, itu tidak salah. Tapi, di satu sisi, aku pun tak pernah mau terus-menerus mengingatnya kembali. Walau terkadang kenangan bermain hujan bersamamu pada waktu itu seringkali menguar begitu saja saat jarum-jarum kecil airnya menumbuki kaca jendela di sebelah kanan meja kerjaku.

Terkadang aku bertanya-tanya, mengapa saat itu kita seolah menginginkan sosok anak kecil yang telah lama tertidur di dasar hati kita itu bangkit kembali. Waktu itu, kita pun tak peduli pada tatapan aneh para pejalan kaki yang berteduh di emperan toko yang tutup, juga pada anak-anak kecil yang berulang kali menawarkan payung warna-warni di tangannya―sementara, ia justru basah kuyup seperti kita.

Menciptakan kenangan, itu katamu dulu. Aku hanya mengangguk tanda setuju, sekaligus berharap saat itu bukan yang terakhir kalinya. Kemudian, aku melangkahkan kaki di dalam derasnya dan merasakan tetesan dinginnya menyentuh kulit. Kita menciptakan sebuah kenangan di bawah hujan. Berdua.

Dan sampai saat itu, aku belum mengerti bahwa hujan bukan hanya membantu menghapus setiap jejak kaki yang tertinggal. Hujan seringkali menancapkan sebuah memori, dan memantiknya kembali dalam waktu serupa. Dan tentang kenangan yang mana, kamu bahkan takkan bisa memilihnya. Jadi, jika di beberapa hari hujan aku tidak mengenang peristiwa A, itu bukan berarti aku tak pernah melakukannya. Akan ada hari-hari hujan lain yang mengingatkanku padanya.

Kita sama-sama tahu, takdir takkan pernah mengijinkan kita untuk memiliki selamanya. Saat kita memutuskan untuk tak lagi berjalan beriringan, kita pun tak pernah tahu apakah suatu saat nanti kita akan dipertemukan kembali. Tapi setidaknya, seperti katamu dulu, kita telah menciptakan kenangan. Dan jika suatu hari aku merasa rindu, meski tak mau, aku akan membuka kembali kotak kenangan kita. Atau, membiarkan hujan memaksaku mengingat saat itu.

Hanya sekedar mengenangmu. Dan itu takkan menjadi soal besar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s