Untitled


Selamat siang, Ibuku sayang. Mungkin surat ini takkan pernah sampai padamu, takkan terbaca meski hanya segaris kalimat. Bukannya tak ada jalan untuk mewujudkannya, hanya saja aku terlalu malu—atau tepatnya gengsi—untuk menyerahkannya padamu, membiarkan kau membacanya.

Dua puluh tiga tahun lebih lima bulan. Dan selama itu kita berbagi udara yang sama, berpijak di bumi yang sama. Waktu sudah jauh berjalan, bukan? Aku sendiri merasa demikian. Ini terlalu cepat.

Selama ini, kita memang tidak bisa dibilang punya hubungan yang intim. Semua berjalan biasa-biasa saja, seolah ini hanya sebuah keniscayaan yang harus kita terima. Kita terlalu jarang berbagi cerita. Selepas melakukan aktivitas di luar seharian, aku tak pernah bercerita padamu bagaimana hariku. Aku tahu, kau berharap aku duduk di sampingmu dan memulai cerita. Tapi satu-satunya kalimat yang sering meluncur dari bibirku adalah: aku capek. Dan kamu diam, mengerti bahwa apa yang kulakukan di luar hampir menguras seluruh tenaga yang kumiliki. Aku pun pergi ke kamar mandi, kemudian masuk kamar, membaca buku, lalu tidur sekitar pukul sebelas malam. Begitu setiap harinya. Pun di hari libur, kegiatanku hanya itu-itu saja: membersihkan kamar, mencuci baju, membaca buku, menonton DVD, menulis sebentar dan tidur.

Hanya sedikit waktu yang kuluangkan bersamamu. Terkadang aku ingin merubah semua, melakukan hal di luar kebiasaan. Ah ya, tapi setiap perubahan membutuhkan pengorbanan. Dan sampai sekarang, aku belum sanggup mengorbankannya. Tapi aku bersyukur, di luar waktu-waktu yang belum kumiliki itu, kita masih bisa pergi berbelanja ke pasar di Minggu pagi dan sesekali menemanimu memasak di dapur sebelum aku berangkat kerja.

Sepertinya, memang ada waktu yang khusus yang bisa kita nikmati sendiri dan bersama.

Ibu, apa kau ingat saat pertama kali kau bercerita tentang sebuah negara yang terletak di bawah permukaan air laut? Saat itu, aku masih berusia enam tahun, hanya dua tahun sebelum aku membuka buku Sejarah Nasional Republik Indonesia. Mereka ‘mengeringkan’ air laut, membangun bendungan besar dan kanal-kanal untuk mengalirkan air-air laut agar tak meluap dan membanjiri tanah mereka yang baru. Aku diam sambil mendengarmu bercerita, bertanya-tanya pada diri sendiri bagaimana mungkin mereka melakukan semua itu. Tanpa kausadari, saat itu kau menumbuhkan sebuah impian yang bahkan bertahan hingga saat ini. Suatu saat, aku harus menginjakkan kakiku di sana. Melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa bendungan yang terbentang di sepanjang pesisirnya.

Rasanya menyenangkan sekali memiliki satu mimpi yang bertahan sementara mimpi-mimpi yang lain harus atau terpaksa kulepas. Saat beberapa tahun yang lalu aku mengatakannya padamu, kamu hanya menganggapinya dengan dingin. Tapi satu hal yang kuyakini: di sana, di dalam hatimu, ada sebuah doa yang tak pernah kudengar. Ya, Ibu, aku tahu. Kau mengamini setiap cita-citaku, mimpi-mimpi absurd-ku meski semua itu terlihat tidak mungkin. Aku tahu, selama aku percaya pada mimpi-mimpiku, selama itu juga kau akan terus mengamininya.

Ibu, mungkin kau masih bertanya-tanya tentang kejadian Juni tahun lalu. Kau hanya tahu setengahnya, itu pun bukan diriku sendiri yang bercerita. Kau tahu tanpa sengaja tiga bulan setelahnya. Dan saat kau mencoba mengorek keterangan dariku, aku justru bungkam. Bukannya aku tak mau berbagi denganmu. Hanya saja, aku tidak mau membicarakannya—sampai sekarang pun, tidak. Aku merasa lebih nyaman berbagi dengan sebuah notebook, atau sedikit berbagi di blog pribadi. Maafkan aku untuk hal ini. Bukannya aku tak percaya padamu, tapi lebih kepada rasa tidak inginku untuk berbagi hal-tidak-menyenangkan padamu. Kurasa, kau tahu dari mana aku mendapatkan sifat ini. Darimu, tentu saja.

Ah, sudahlah. Kurasa ini bukan hal yang patut diperbincangkan di sini. Toh, seperti kataku tadi, aku tak mau membicarakannya lagi. Soal mengenang, itu persoalan lain. Bukankah kita tidak bisa memilih kepingan memori mana yang tiba-tiba menyeruak dan memaksa untuk diingat?

Ibu, aku tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan bahwa aku sungguh bersyukur memiliki ibu sepertimu. Kau tak pernah mengeluh ketika aku tiba-tiba diserang rasa malas, dan kau terpaksa mengambil alih pekerjaan rumah yang semestinya menjadi kewajibanku pada setiap hari libur. Kau juga tak pernah mengomel jika pada satu dini hari yang dingin aku membuatmu terjaga dari lelap karena teriakan spontanku ketika menonton pertandingan sepakbola. Aku bersyukur karena kau selalu ada di sampingku di saat-saat sulit, sementara yang lain justru berjalan menjauh.

Ibu, aku tahu, ini takkan cukup mewakili seluruh kata yang berjejalan di otakku. Tapi aku cuma ingin kau tahu, Ibu. Meski mungkin takkan bisa sebesar kasih sayangmu padaku, aku begitu menyayangimu. Dan sampai kapan pun, aku terus berusaha membuatmu tersenyum.

Selamat siang, dan selamat Hari Ibu… Je vous aime beaucop. :)

P.S: Kau tahu? Aku selalu memimpikan satu hari bersamamu di Lisse. Keukenhof, Ibu. Tempat terindah di dunia pada saat musim semi. Kita bisa melihat hamparan tulip dan daffodil dengan bermacam-macam jenis dan warna. Mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa aku ingin melewatkannya bersamamu. Aku pecinta musim gugur, Ibu. Tapi setiap meliat bunga merekah, aku selalu bisa mengingat senyummu. Dan kau pasti ingat, kau lah yang mengajariku berkebun dan menyayangi bebungaan di setiap sudut halaman rumah kita saat aku kecil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s