Surat Akhir Tahun


“This is a new year. A new beginning. And things will change.” ~ Taylor Swift

Kalau ada hal yang tidak kuinginkan untuk berubah, itu adalah mimpi kecilku tentang Belanda. Dan, kamu.

Meski hingga tiga ratus enam puluh lima hari yang berlalu masih tetap sama―kita belum juga berjalan beriringan, duduk bersama sambil menyesap kopi, atau berdiri bersisian―aku tetap menuliskan semua perjalananku pada beberapa surat panjang, dan memotret benda-benda dan kejadian lucu. Kamu mungkin akan berkata, bahwa setahun kemarin, aku selalu memiliki waktu luang untuk melakukan hal remeh seperti ini. Aku bilang, aku cuma tidak ingin lupa. Lupa pada setiap momen-momen yang sebenarnya sudah cukup membuat kita bahagia dan merasa bangga, adalah satu dari beberapa kehilangan yang menyedihkan. Mungkin, aku bisa kembali teringat pada satu waktu. Kenangan bisa menyeruak kapan saja, di mana saja. Tapi, bukannya aku tetap tidak bisa memilih kenangan mana yang akan tiba-tiba muncul di pikiranku―kenangan yang memaksa untuk diingat?

Aku pernah membaca satu kutipan: nobody takes a picture of something they want to forget. Jadi, apa yang kulakukan setahun kemarin bisa dibilang mengabadikan hal-hal yang tak ingin kulupakan, hal-hal yang ingin kubagi denganmu.

Aku memang pelupa. Tapi, jika nanti kamu ingin tahu semua kisah yang kulewatkan tanpa kehadiran kamu, aku cukup membuka kotak pandoraku. Lalu, memberikan berlembar-lembar potret dan seikat surat yang kutulis untuk kamu sepanjang tahun kemarin. Dan dari sana, kamu akan tahu seperti apa tahun 2011-ku. Ada potret senja yang kutangkap pada satu sore sepulang kerja, bias warna-warni pelangi sehabis hujan, semburat fajar di kampung halaman ayah. Dan beberapa cerita yang tak pernah mau kubagi dengan banyak orang: pertemuan, rasa hampa, kehilangan yang menyakitkan, sepi yang menusuk, hari-hari hujan, kontes menulis kecil-kecilan, rasa bangga, mimpi-mimpi baru, mimpi yang terpaksa dilepas dan tetap bertahan, pertemuan rahasia kita dalam lelap, juga rindu akan pertemuan kita di dunia yang sebenarnya.

Terkadang, aku terkesan merutuki waktu yang tak kunjung memangkas jarak di antara kita. Tapi, di setiap akhir tahun seperti ini, aku termasuk orang yang tersenyum tanpa mau menyesali hal-hal yang telah lewat. Ada harapan-harapan baru di depan sana untuk menggantikan hal-hal yang disesali, dilepas, hilang, dan ditinggalkan di belakang. Dan karena awal tahun adalah sebuah tanda bahwa kita telah mengikis jarak yang digariskan-Nya, menjadikan pertemuan itu lebih dekat dari kemarin.

Lalu, boleh kan kalau aku bertanya-tanya: seperti apa kamu melewatkan tahun kemarin?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s