Januari Kedua

“What happens when people open their heart?”
“They get better.”

Haruki Murakami (Norwegian Wood)

Pagi ini, jika aku berada di posisi Toru Watanabe, mungkin jawaban itu akan menghentakku dengan begitu keras. Membuatku diam tanpa berkata apa-apa, merenungkannya lama, lalu mengingat hal-hal yang telah terjadi di belakang hingga kini. Dan akhirnya, aku pun mungkin akan mengiyakan.
Continue reading “Januari Kedua”

Mimpi

Hai, kamu…

Mungkin ketika kamu membaca ini, dahimu akan mengerut, dan kamu akan menghitung tentang berapa banyak waktu yang kulewatkan tanpa menulis sepucuk surat untukmu. Dua puluh lima hari. Kubantu dirimu agar kamu tak terlalu lelah memainkan jarimu.

Semua berubah begitu cepat, sekalipun kita tak mau. Kamu tidak perlu bertanya seperti ini di waktu-waktu mendatang: “Things will change, will you?” Karena tanpa kamu bertanya pun, kamu sudah tahu jawabannya: things change all the time. Kita tak pernah bisa menerka-nerka perubahan apa yang akan terjadi pada kita, hidup kita, bahkan untuk beberapa menit kemudian.
Continue reading “Mimpi”

[Review] Dunsa

Title: Dunsa
Author: Vinca Callista
Publisher: Atria
Date: November, 2011

Tersebutlah, sebuah negeri teduh nan hijau dengan padang rumput dipenuhi bunga Elanor. Ada hutan lebat di perbatasan sebelah barat negeri—hutan terlarang, begitu mereka menyebutnya.
Continue reading “[Review] Dunsa”

Let Go

Aku mulai merindukan senja. Rasanya, tidak melihatnya ketika dalam perjalanan sepulang kerja seperti melepaskan orang yang kamu cintai pergi. Ya, aku memang sedikit berlebihan.

Dan saat aku mengatakan itu padamu, kamu tertawa. Bukankah kamu juga menyukai hujan? Tanyamu seketika membuatku sedikit limbung. Dua hal yang kusukai ternyata saling bertolak belakang. Mereka muncul bergantian―saat yang satu ada, maka aku kehilangan satu lainnya.
Continue reading “Let Go”

[Review] Believe by Morra Quatro

“Ada saatnya untuk segala sesuatu, La… dan dalam perjalanan menuju saat itu, you’ll never walk alone.” ~ Zie (page 106)

Saya mengenal nama Morra Quatro setelah jatuh cinta pada sosok William Hakim. Dia mengingatkan saya pada penulis berkebangsaan Prancis favorit saya, Marc Levy. Gaya bahasanya ringan, cara bertuturnya tak pernah membuat bosan, dan membuat enggan menutup buku sebelum titik terakhir. Tulisan mereka berdua juga selalu meninggalkan kesan yang mendalam.
Continue reading “[Review] Believe by Morra Quatro”