[Review] Believe by Morra Quatro


“Ada saatnya untuk segala sesuatu, La… dan dalam perjalanan menuju saat itu, you’ll never walk alone.” ~ Zie (page 106)

Saya mengenal nama Morra Quatro setelah jatuh cinta pada sosok William Hakim. Dia mengingatkan saya pada penulis berkebangsaan Prancis favorit saya, Marc Levy. Gaya bahasanya ringan, cara bertuturnya tak pernah membuat bosan, dan membuat enggan menutup buku sebelum titik terakhir. Tulisan mereka berdua juga selalu meninggalkan kesan yang mendalam.

Forgiven―karya pertama Morra―sempat membuat saya berhenti membaca buku selama hampir sepuluh hari. Penyebabnya? Ada perasaan kosong yang tiba-tiba menguasai hati. Rasanya, aneh. Mengingat selama ini hanya karya-karya Marc Levy dan Haruki Murakami yang bisa membuat saya merasa demikian. Sejak itu, jadilah saya seorang pengagum Morra Quatro tanpa memedulikan kenyataan bahwa sejauh itu dia baru menelurkan satu buku.

Waktu beberapa minggu lalu dia mengadakan sebuah kontes menulis surat cinta untuk Will, saya pun iseng-iseng ikut. Dan, tidak tahu bagaimana caranya, surat yang menurut saya sangat absurd itu, menjadi satu dari lima pemenang. Sepertinya, semesta memang mendukung saya menjadi orang Jember pertama yang membaca Believe. =)

Tidak seperti Forgiven, konflik dalam Believe cenderung lebih ringan. Bercerita tentang Langit dan Biru yang memperjuangkan hubungan cinta yang harus dipisahkan oleh setengah lingkar bumi. Bab-bab di dalamnya berisi tentang cerita-cerita yang terjadi, dan kepingan masa lalu yang menyeruak di waktu mereka terpisah.

Setiap kalimat terjalin dengan manis, dan begitu dalam. Saya tertawa, menangis, terharu, tersenyum, dan bertanya-tanya dalam waktu yang sama. Chemistry antar dua tokoh utama pun terasa begitu kuat. Dua bab di dalamnya, You’ll Never Alone dan Will You Still Marry Me?, sepertinya pernah saya baca di akun kemudian.com milik Morra.

Ada beberapa typo, namun tidak terlalu fatal hingga tidak sampai menganggu kenyamaman saat membaca. Overall, buku ini wajib dibaca bagi mereka yang percaya pada kekuatan cinta. Ada banyak kalimat bagus yang bertaburan di dalamnya.

4 of 5 Liverbird’s wings.

“Seperti ini saja, sudah cukup bagiku untuk tahu, bahwa segala yang kulakukan sejauh ini untuk bersamanya… it’s all worth it.” ~ Langit (page 198)

Note: Membaca buku ini, membuat saya teringat pada surat-surat yang saya tulis untuk Mr. X pada setiap malam sebelum beranjak tidur. Semua surat yang saya tulis untuk menghindarkan diri dari kata lupa. Dan bab You’ll Never Walk Alone, sukses membuat saya tersipu mengingat ‘cita-cita’ memiliki pasangan seperti Egit yang seorang Milanisti―pasangan Milanisti-Liverpudlian adalah pasangan sempurna di mata saya. *mulai absurd*

Advertisements

One thought on “[Review] Believe by Morra Quatro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s