[Review] Dunsa


Title: Dunsa
Author: Vinca Callista
Publisher: Atria
Date: November, 2011

Tersebutlah, sebuah negeri teduh nan hijau dengan padang rumput dipenuhi bunga Elanor. Ada hutan lebat di perbatasan sebelah barat negeri—hutan terlarang, begitu mereka menyebutnya.

Rumah penduduknya berbentuk jamur dan dicat warna-warni cerah dengan satu perapian kecil di dalam. Halamannya tak terlalu luas, rumpun bunga mawar dijadikan pagar. Jalan utamanya hanya cukup dilalui satu kereta kuda. Satu sungai kecil berair jernih mengalir membelah negeri.

Istana dan kediaman keluarga terletak tepat di tengah negeri. Bangunan itu tinggi dengan atap berbentuk kerucut dengan satu jendela kecil pada setiap ruangan. Di setiap sudut, ada pos-pos penjagaan yang digunakan untuk setiap aktivitas penduduk.

Sebuah alun-alun besar dibangun di sisi sebelah kanan istana. Dan pada setiap akhir bulan, festival kembang api diselenggarakan di sana. Itu bisa dibilang sebagai satu-satunya hiburan bagi penduduknya yang mayoritas hanya bekerja di ladang. Namun, kebanyakan dari mereka memiliki kemampuan bermain pedang dan juga memanah.

***

Salah satu hal yang paling menyenangkan dari membaca sebuah novel fantasi, adalah kita bisa mengembangkan imajinasi kita seluas-luasnya tanpa takut terbentur logika. Ah ya, fiksi fantasi memang membuat kita melogiskan hal yang di dunia nyata tak mungkin. Meski, semua itu harus tetap terasa masuk akal.

Di atas, memang bukan Narasnicala yang akan kamu temui dalam Dunsa. Itu hanya kumpulan twit saya saat penulis meminta para follower-nya di twitter untuk mendeskripsikan salah satu negeri di Prutopian itu dengan bayangan yang ada di kepala. Dan, twit-twit itulah yang akhirnya meloloskan saya sebagai salah satu dari dua pemenang yang beruntung.

Naraniscala sendiri merupakan satu dari empat negeri besar di Prutopian. Tiga negeri besar lainnya adalah Delmorania, Fatacetta, dan Ciracindaga. Diceritakan, bahwa Merphilia Dunsa tidak pernah mengenal siapa-siapa selain bibinya, Bruzila Bertin. Mereka tinggal di sebuah tempat terpencil bernama Tirai Banir. Namun kedatangan seorang Zauberei ke kediaman mereka dengan membawa sebuah kabar yang menyebutkan bahwa Merphilia adalah gadis dalam ramalan Kitab Kahrama, membuat hidupnya tak lagi sama. Saat itu, hanya beberapa hari setelah ulang tahunnya ke-17. Dan isi ramalan itu menyebutkan bahwa hanya dia yang bisa membunuh Ratu Merah atau Ratu Veruna, yang jiwanya baru saja dibangkitkan kembali oleh kekuatan sihir kuno.

Phi, panggilan Merphilia, akhirnya mengetahui cerita mengenai diri dan asal-usulnya yang selama tujuh belas tahun disembunyikan oleh Bruzila. Bahwa Ratu Merah, yang dulunya bernama Mergogo Dunsa, adalah ibu kandungnya sendiri. Bahwa rasa sakit hati Mergogo telah membawa malapetaka bagi Prutopian, hingga puncaknya Mergogo membunuh Maharaja Claresta—ayah Merphilia. Veruna sendiri akhirnya takluk di tangan Jendral Alanisador, namun tidak dengan jiwanya yang ‘terperangkap’ dalam sebuah danda merah.

Phi pun masuk dalam lingkungan Kerajaan Naraniscala. Bersama Sena Naraniscala, Phi memulai melakukan persiapan untuk menghadapi Ratu Merah.

Sempat didera rasa malas karena alurnya yang terasa lambat di awal cerita, toh, akhirnya saya bisa menikmati petualangan Merphilia hingga akhir. Ceritanya mulai mengalir, tak lagi menjemukan sejak Phie masuk ke dalam lingkungan kerajaan dan bergabung bersama Sena Naraniscala.

Sayangnya bumbu roman yang seharusnya ‘hanya’ menjadi bumbu penyedap, terkesan berlebihan. Hubungan asmara antara Phie dan Pangeran Skandar diberi porsi terlalu banyak. Terlebih, adegan Ratu Alanisador yang memberi Phie ‘hadiah’ dengan menjodohkannya dengan Pangeran Wavi yang membuat saya sempat mengelus dada.

Satu hal lagi yang terasa mengganjal di hati, sosok Phi. Jujur, saya tidak terlalu menyukai karakter ini, sekalipun dia merupakan tokoh utama dan menjadi pahlawan di akhir cerita. Dia digambarkan sebagai perempuan yang begitu sempurna, tidak ada cacat sama sekali. Bagi saya, dia terkesan tidak manusiawi. Terlalu perfect, sekalipun dia cuma hidup dalam fiksi fantasi. Mungkin akan lebih menarik kalau karakter ini diberi sedikit kekurangan selain kenyataan dia keturunan Ratu Merah.

Namun hal-hal ‘minus’ di atas mampu ditutupi—atau bahkan bisa dibilang ditekan habis—oleh hal lainnya yang saya sukai dari novel ini. Imajinasi penulisnya patut diacungi jempol. Makhluk-makhluk fantasi di dalamnya membuat saya tercengang—dan bahkan jatuh cinta pada para Fata. Selain itu, rasanya tak banyak para penulis cerita fantasi yang mau repot-repot menciptakan sebuah bahasa untuk ‘dunianya’—that’s why I love Tolkien. Bahasa yang digunakan kaum Zauberei atau penyihir mengingatkan saya pada Bahasa Basque, sama-sama rumit untuk dilafalkan. :P

Saya suka cara penulis mendeskripsikan Prutopian. Meski sempat membuat puyeng dengan kalimatnya yang panjang-panjang, namun saya berhasil membayangkan seperti apa ‘dunia’ di dalamnya. Fastehagan, di dalam benak saya, hampir menyerupai Camelot dalam serial Merlin. Mungkin itu disebabkan karena saya tak lagi bisa menemukan bayangan yang lebih pas, mengingat kapasitas otak yang terbatas.

Dan adegan Merphilia bertemu Oro-Roku di Kuil Kaibo itu ‘sesuatu banget’—sampai-sampai membuat saya merasa ingin mengayunkan kaki, berlari, dan merasa turut ambil dalam proses pemenggalan kepala-kepalanya. =))

Mungkin, kalau saya diberi sebuah naskah ini tanpa menyebutkan atau melihat nama penulisnya terlebih dahulu, saya akan mengira bahwa ini ditulis orang luar. Namun nyatanya, Dunsa ditulis oleh orang Indonesia yang ternyata hanya satu tahun lebih muda dari saya.

Untuk para penggemar novel fantasi dan petualangan, novel ini wajib dibaca. Lagipula, kapan lagi kita sesekali bisa terlepas dari dunia-dunia ciptaan Tolkien, J.K. Rowling atau C.S. Lewis? Ada penulis muda negeri ini yang berbakat di bidang yang sama. Dan, mungkin saja, suatu hari dia bisa menjadi seorang penulis fiksi fantasi besar seperti tiga penulis tersohor di atas.

And one thing I wanna say to the author, you did a great job. Saya jatuh cinta pada Putri Neve. Pada Fata. Pada Delmorania. Pada Pangeran Skandar—Keynes. :P

Rating: 3,5 of 5 stars.

P.S: Dengar-dengar, penulis sendiri pernah berkata bahwa mungkin saja akan dia akan menulis sekuel dari Dunsa. Menjadi sebuah trilogi, mungkin. Ah, can’t wait!

Advertisements

4 thoughts on “[Review] Dunsa

  1. A good review :)
    Aku udah beres baca novelnya, yayyy! Kayaknya Vinca bakal bikin buku kedua dan ngelanjutin kisah cinta Phi dan Skandar hehehe
    Anyway, good luck buat lomba reviewnya :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s