Ketika Hujan [6]

Karena cinta mungkin seperti hujan. Terkadang ia datang diam-diam, terlalu tiba-tiba. Tanpa ada pertanda apa-apa.

Dan tanpa sempat kausadari, kau akan berlari mencari tempat aman, tempat di mana kau tak perlu basah dan merasa kedinginan. Atau, jika kau cukup berani, kau akan tetap berdiri di bawah derasnya, merasa tiap tetesnya, menunggu hingga ia reda―meski kau setengah berharap, hujan takkan pernah berhenti.

Dan belakangan, aku sadar, aku tengah berlari.

29

Hai, Rafa…

Kukira, surat yang kutulis setahun lalu akan menjadi surat terakhir untukmu. Maksudku, kupikir aku takkan lagi punya waktu untuk melakukannya, atau bisa saja aku lupa. Otak manusia itu terlalu rumit, ada begitu banyak hal yang kita pikirkan dalam waktu bersamaan―mungkin itu alasan mengapa kita mudah lupa. Dan karenanya, kini aku tak pernah mau menjanjikan satu hal. Seperti aku tidak mau berjanji bahwa di tahun depan atau beberapa tahun lagi aku akan melakukan hal ini sekali lagi.
Continue reading “29”

Lucky

“How lucky I am to have something that makes saying goodbye so hard.”

Aku mendengar kutipan itu dalam animasi Winnie The Pooh–beruang madu kuning yang lucu itu. Kutipan itu mengingatkanku kembali pada hal-hal yang sempat dan nyaris singgah dalam kehidupanku. Segelintir di antaranya, terlalu sulit direlakan saat harus dilepas.

Seperti kemarin. Udara di Terminal Bayuangga siang kemarin membuatku enggan untuk beranjak pulang. Rasanya, saat itu aku sudah pulang. Di rumah.
Continue reading “Lucky”