Lucky


“How lucky I am to have something that makes saying goodbye so hard.”

Aku mendengar kutipan itu dalam animasi Winnie The Pooh–beruang madu kuning yang lucu itu. Kutipan itu mengingatkanku kembali pada hal-hal yang sempat dan nyaris singgah dalam kehidupanku. Segelintir di antaranya, terlalu sulit direlakan saat harus dilepas.

Seperti kemarin. Udara di Terminal Bayuangga siang kemarin membuatku enggan untuk beranjak pulang. Rasanya, saat itu aku sudah pulang. Di rumah.

Probolinggo mungkin hanya sebuah kota kecil. Maksudku, lebih kecil dari Jember. Meski terletak di jalur Pantura, pusat kotanya seperti kota mati. Jalanan utamanya tampak lengang. Tidak ada toko buku besar di sana, pusat perbelanjaan pun yang hanya bisa dihitung jari.

Namun menjejakkan kaki di sana selalu bisa memberi rasa nyaman. Hawanya begitu bersahabat. Tidak terlalu dingin, tapi juga tidak panas. Padahal, hanya kurang dua kilometer dari pusat kota, aku sudah bisa melihat laut.

Dulu, hampir dua tahun lalu, aku selalu berada di sana pada setiap akhir pekan. Lari dari kesibukan menggila, juga tumpukan arsip di atas meja. Di sebuah pelabuhan kecil di utara kota, aku bisa menghabiskan waktu dari pagi hingga sore hari. Merenungkan tentang banyak hal. Sedikit pun, aku tidak pernah merasa terganggu oleh teriakan anak-anak kecil yang bersepeda. Juga pada pandangan heran penduduk setempat ketika mendapatiku hanya duduk sambil perlahan mengayunkan kaki yang sedikit menggantung. Tak berbuat apa-apa, hanya diam dan memandangi laut lepas.

Saat itu, dan juga kemarin, aku tahu bahwa sesekali kita memang perlu menciptakan jarak. Jarak akan membuat kita merasakan rindu, sekaligus membantu kita untuk mengerti bahwa kita terlalu sering menutup mata akan banyak hal kecil yang membuat kita bahagia. Hal yang dianggap ‘kecil’, yang selama dianggap sebagai tempat perlarian, nyatanya menjadi tempat di mana kata ‘selamat tinggal’ terlalu sulit untuk diucapkan.

Dan di sepanjang perjalanan yang kamu sebut kembali itu–bukan pulang–aku melihat refleksi beruang kuning lucu di kaca jendela bus. Dia tersenyum, begitu manis, seolah mengatakan hal sama seperti yang pernah dikatakannya.

Aku beruntung. Dan nanti, sesekali, aku akan pulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s