29


Hai, Rafa…

Kukira, surat yang kutulis setahun lalu akan menjadi surat terakhir untukmu. Maksudku, kupikir aku takkan lagi punya waktu untuk melakukannya, atau bisa saja aku lupa. Otak manusia itu terlalu rumit, ada begitu banyak hal yang kita pikirkan dalam waktu bersamaan―mungkin itu alasan mengapa kita mudah lupa. Dan karenanya, kini aku tak pernah mau menjanjikan satu hal. Seperti aku tidak mau berjanji bahwa di tahun depan atau beberapa tahun lagi aku akan melakukan hal ini sekali lagi.

Toh, nyatanya saat ini aku belum lupa. Aku masih ingat ritual-ritual kecil yang kulakukan semenjak pertama aku mengenalmu: bangun pagi-pagi di setiap tanggal 11 Februari, dan tepat pukul enam pagi waktu di negaraku, aku mengucapkan satu kalimat sederhana yang juga diucapkan banyak orang di luar sana. Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa harus selalu pukul enam pagi. Itu adalah rentang waktu antara kota tempatku dengan kota tempatmu berada.

Seharusnya, kini aku menggesernya ke satu jam setelahnya. Kamu di London sekarang, bukan di Amsterdam―dan juga bukan di Hamburg atau pun Madrid. Di mana perbedaan waktu itu kini bertambah satu jam.

Ah, sudahlah. Aku tidak peduli, bukan karena itu mengusik kebiasaanku. Tapi juga karena aku jauh lebih menyukai Amsterdam daripada London.

Bagaimana dua puluh delapan tahunmu? Menyenangkan, bukan? Dan biar kutebak, hari-harimu kini tak lagi seberat dulu. Semuanya sudah berlalu. Meski mungkin belum benar-benar berlalu, tapi setidaknya kamu jauh lebih kuat dari sebelumnya. Sekarang kamu bisa tersenyum lepas, tanpa ada pikiran berat yang menggantung.

Sepertinya kamu sudah membuktikan kata sebagian besar orang: everything will be okay in the end; and if it’s not okay, it’s not the end. Terlalu klise untukku. Kau tahu? Aku tak pernah memercayai pemikiran mainstream semacam itu. Aku percaya bahwa kutipan di atas dan juga klausa ‘happily ever after’ hanya ada di buku-buku dongeng karangan Grimm bersaudara, Hans Christian Andersen, dan dalam sebagian besar novel roman. Bukankah hidup itu adalah sebuah siklus? Selalu ada awal baru untuk sebuah akhir. Akan ada banyak macam akhir, seperti juga awal. Dan hidup akan terus membimbing kita ke jalan yang serupa meski dengan lakon berbeda. Lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi. Terus begitu.

Di satu kesempatan, aku melihatmu di televisi, atau bertemu seseorang di tempat asing. Dan di lain waktu, aku akan melupakannya. Kemudian, bertemu dengan orang berbeda yang serta-merta akan membuatku berusaha untuk mengingat satu pertemuan serupa di masa lampau. Atau jika aku beruntung, aku akan bertemu dengan orang itu lagi.

Hidup, tanpa kita sadari, memang membentuk pola seperti itu. Hampir mirip dengan planet-planet yang berputar mengelilingi matahari―berulang-ulang, dan selalu menemukan kejutan di dalam perjalanannya. Kejutan. Itu yang membuatku percaya, ada orang-orang tertentu yang mungkin hanya kita temui sekali atau dua kali, namun begitu sulit untuk kita lupakan.

Sebentar. Sepertinya semakin lama, aku semakin melantur saja. Ada baiknya jika berhenti menulis, dan kembali menekuni buku terakhir yang kubaca.

Tapi, Rafa, aku selalu ingin mengatakan satu hal padamu tepat di hari kesebelas bulan kedua. Kelak, jika kesempatan itu memang ada, aku ingin bertemu denganmu. Mungkin kita memang tidak bisa berbincang layaknya sepasang kawan lama―aku tahu, itu sangatlah tidak mungkin. Aku cuma ingin kamu tahu, bahwa aku selalu menyiapkan nama yang sama dengan nama depanmu untuk anak lelakiku nanti.

Selamat ulang tahun. Ada begitu banyak doa dan harapan yang tak mungkin dan tak bisa kuungkapkan di sini. Tapi percayalah, Tuhan pasti akan mengabulkan setiap doa meski itu hanya tersimpan rapat di hati, atau tertulis dalam sepucuk surat dan buku harian. Dia hanya menunggu waktu yang tepat, waktu di mana kita telah siap.

Sekali lagi, selamat ulang tahun.

Sincerely,
Gadis yang terpaksa tumbuh dewasa karena tak punya pilihan.

P.S: sudah kukatakan tadi, aku tidak mau berjanji. Mungkin tidak akan ada lagi satu surat untuk mewakili ucapan selamat ulang tahun. Semua bisa berubah kapan saja. Meski ini tak menutup kemungkinan jika nanti, setelah aku benar-benar lupa, aku akan menulis satu surat lagi. Bukankah aku sudah bilang bahwa hidup adalah sebuah siklus?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s