Ketika Hujan [7]


Barangkali, kita memang seperti itu. Terus bergerak, bertemu di satu titik. Kemudian, entah siapa nanti yang akan memulainya, kita berlalu―dengan atau tanpa sebuah kata perpisahan.

1.

Di antara jingga yang membaur dengan biru dan abu, kamu mengungkapkannya terlebih dahulu. Ya, kamu tak hendak berhenti terlalu lama. Kamu ingin terus bergerak, melanjutkan perjalanan.

‘Ke mana?’

‘Entah,’ kamu pun tak tahu pasti. Karena sekalipun pilihan itu akan hilang saat kamu memutuskan, masa depan tak selalu menjadi kuasamu.

Tapi untuk saat ini, kamu masih di sini. Masih berhenti, menghela nafas sejenak. Sebelum kemudian pergi lagi.

2.

Tanpa kamu sadari, aku memalingkan wajah. Mengusap sudut mata perlahan.

Aku mengingat kehilangan pertama: sekotak manisan yang dikumpulkan dengan susah payah saat berusia lima tahun. Lalu, aku ingat kepindahan seorang teman dekat ke luar kota, kehilangan cinta, keluarga, dan… Kamu tahu, saat kenangan-kenangan semacam itu berlompatan di otakmu, kamu bahkan takkan bisa merincinya satu per satu.

Tapi aku masih ingin menoleh jauh ke belakang. Melihat mereka yang datang mengetuk pintu, singgah sebentar, kemudian pergi tanpa meninggalkan apa-apa selain kenangan samar.

Karena setelah ini, mungkin kamu akan menjadi satu di antara mereka.

3.

Life is a box of cookies.*

Jauh sebelum Forest Gump populer dengan definisinya tentang hidup, Murakami menulis kutipan itu dalam satu novelnya. Hidup, mungkin, memang seperti itu. Kamu takkan pernah tahu kejutan apa yang akan kamu temui di tikungan jalan saat kamu sedang berkendara, serta hal apa yang akan datang selagi kamu hanya duduk dan menunggu.

Kamu selalu ingin bergerak, menapaki dunia asing yang belum pernah kamu jejak. Bagimu rumah adalah perjalanan-perjalanan ke tempat asing, tinggal setahun atau dua tahun, lalu mengepak koper, dan pergi ke tempat baru. Sedang bagiku, hidup itu menunggu. Menunggu orang-orang baru datang, kemudian melihat mereka pergi. Begitu seterusnya.

Sampai di titik ini, aku sadar, bahwa hidup membentuk pola seperti sebuah lingkaran―siklus yang tak putus. Dan bahwa hanya dalam beberapa waktu ke depan, kita hanya akan semakin mempertegasnya.

Kamu pergi, menemukan tempat baru lagi, rumah baru. Dan aku akan melihat punggungmu semakin mengecil, lalu kembali menunggu siapa yang akan singgah selanjutnya.

4.

Lalu, aku mulai menyiapkan kata untuk hari itu. Mencoret kalimat ‘selamat jalan’, dan ‘semoga perjalananmu menyenangkan’ dari selembar kertas yang mulai kusam.

Terlalu biasa. Bahkan meski bersedia mempertaruhkan apa saja demi menundanya, aku ingin menciptakan sebuah perpisahan yang indah. Di mana aku tersenyum ketika melepasmu nanti, dan kamu tidak sedikit pun merasa keberatan saat melangkahkan kaki.

Dan aku menemukannya. Tersembunyi di antara ratusan kata yang berdesakan ingin keluar.

5.

‘Nanti, jika kamu sudah lelah, dan ingin berhenti. Aku ingin kamu kembali.’

6.

Selagi mengamati jarum-jarum air itu berlomba mencapai tanah, aku mendapati bibirku menggumamkan beberapa baris kalimat.

Aku tengah berdoa, sambil menyebut namamu.

* Norwegian Wood (Haruki Murakami)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s