Siklus


Cerita hari ini kauabadikan di atas berlembar-lembar kertas kusam. Agar nanti, jika kau sudah tua dan renta, kau bisa kembali mengingatnya. Lalu, tersenyum.

Setiap kali mendengar namanya disebut, hal pertama yang muncul di benakmu adalah: senyumnya. Dan detil-detil lainnya akan menyusul sesudahnya. Itu pun tak sempurna, tak utuh. Ingatanmu memang payah―kau selalu kesulitan untuk mendeskripsikan bagaimana fisiknya saat temanmu bertanya.

Namun ketika temanmu menanyakan dalam sebuah chat panjang di yahoo messenger, ‘Seperti apa senyumnya?’

‘Senyum yang akan menularimu untuk melakukan hal yang sama.’ Kau tak pernah tahu apa alasannya. Ketika pertama kau melihatnya tersenyum, mau tak mau kau pun melengkungkan bibirmu. Kau tersenyum.

‘Dan sekarang?’

Pertanyaan itu membuatmu menyeret ingatanmu kembali ke beberapa jam yang lalu, pada pagi hari basah. Kau masih ingat bagaimana perkataannya membuat seisi perutmu seakan ingin keluar. Kau ingat saat kau bahkan tak mampu berkata apa-apa, kemudian perlahan mengusap sudut matamu sebelum basah.

Ia bilang, ia ingin melanjutkan perjalanan. Perjalanan seperti apa, kau tak mengerti. Yang kau tahu, ia hanya takkan singgah lebih lama lagi.

Kau pernah membayangkan saat-saat seperti itu: ia pergi; lalu di hari-hari setelahnya, kau akan asyik mengenang, atau justru melupakannya. Kaupikir dengan begitu setidaknya kau takkan terlalu merasa sakit. Tapi bahkan hingga pagi tadi, juga detik ini, kau justru menyadari bahwa kau belum bisa melihatnya pergi―alih-alih merelakannya.

Kau tak bertanya apa-apa sesudahnya. Kecuali, sebuah kata tanya lazim yang keluar dari bibir orang yang dipenuhi rasa ingin tahu, ‘Ke mana?’

Ia mengangkat bahu. Ia pun belum tahu akan ke mana. Rasanya, lucu. Tapi kau bisa memaklumi, ada banyak pilihan yang dihadapkan padanya. Ia tak bisa buru-buru memutuskan; atau memejamkan mata dengan sebuah peta dunia terhampar, menunjuk satu titik, lalu pergi ke tempat itu.

Ia selalu penuh perhitungan.

‘Kau tahu, hidup itu membentuk pola seperti sebuah lingkaran.’

Kau mengangguk, paham benar apa maksudnya. Ia telah berkali-kali melakukan perjalanan ke tempat-tempat asing, tinggal beberapa waktu, kemudian pergi lagi menuju tempat baru. Hidupnya memang seperti itu.

‘Jadi kupikir, ada baiknya jika aku tidak memutus siklus.’

Dan, sekali lagi, kau mendapati dirimu tidak melakukan apa-apa. Kau tak berkata, ‘Kumohon, jangan pergi!’―bagimu itu terlalu melodramatis. Sejak dua tahun lalu, sejak dia memasuki kehidupanmu, kau tak pernah mendapati dirimu telah dan akan rela melakukan apapun untuk mencegah kepergiannya. Kau tak tahu mengapa. Mungkin karena ia berbeda; atau mungkin kau sudah terbiasa menunggu orang datang untuk mengetuk pintu, singgah, kemudian kau ditinggalkan, dan kau akan menunggu lagi.

‘Kapan?’ Selalu pertanyaan pendek yang kauutarakan, sekilas suaramu terdengar setengah dongkol. Namun kali ini, ia tak lagi mengangkat bahu. Ia mengalihkan pandangan, seolah ia sama terlukanya seperti dirimu.

‘Aku selalu membayangkan tentang hari ini. Benar katamu, hidup itu seperti lingkaran. Tanpa kita sadari, kita selalu mengulangi kejadian serupa meski dengan lakon berbeda. Jadi, seharusnya ini takkan menjadi soal besar. Tapi jika kelak kau merasa lelah, dan ingin berhenti, aku ingin kau kembali.’ Kau tahu, itu terdengar egois. Namun di antara ribuan kata yang berhamburan dan mendesak ingin keluar, hanya itu yang mampu mewakili isi hatimu.

‘Kau mungkin lebih tahu daripada yang pernah kukira. Aku pasti akan merindukan tempat ini. Selalu.’ Kau bisa melihatnya. Tak hanya bibirnya, matanya pun tersenyum.

Dan kau mulai melengkungkan bibirmu serupa bulan sabit. Mungkin kau memang belum sepenuhnya merelakannya pergi, namun setidaknya kau sudah mencoba.

‘Jadi, menurutmu apa senyum itu masih akan sama artinya seperti yang kaujelaskan tadi?

‘Seperti biasa, ya.’

‘Kau yakin?’ Saat kau membaca itu, kau kembali mengingatnya. Senyumnya. Semua tentang dirinya. Hingga kau hanya bisa membalas chat itu dengan: titik dua, dan kurung tutup.

Kau tersenyum. Dan menyadari betapa kau berharap bahwa ia, berdua dengan dirimu, akan memutus siklus. Dia membuatmu berhenti menunggu, dan kau membuatnya berhenti mencari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s