Biru


Hei…

Sedikit kaku, ya? Hanya sedikit memang, namun ini jauh dari apa yang kuharapkan. Maksudku, sebenarnya aku masih ingin menyapamu seperti biasa, menyebut namamu dengan riang, dan mengenangmu tanpa ada sedikit saja rasa sakit. Seperti dulu.

Tapi mungkin itu takkan terjadi. Akan selalu ada yang berbeda. Apa yang kusiapkan jauh-jauh hari: tersenyum manis saat melepas kamu pergi, ternyata hanya menjadi sebuah rencana. Nyatanya, aku menggigit bibir bagian bawah; menampilkan sebuah senyum kaku; serta berharap ini hanya sebuah mimpi buruk, dan ketika nanti aku membuka mata, semua masih berjalan seperti biasa.

Ah, lupakan saja.

Sebenarnya, dulu aku sudah menyisakan sedikit ruang untuk tak mengharap kamu akan singgah di sini selamanya. Sejak kapan, aku tidak tahu pasti. Namun setelah kurenungi lama, mungkin aku sudah melakukannya sejak kita bertemu pertama kali. Itu tak membantu banyak, aku tahu. Sejak hari ketika kamu bilang akan pergi, meski dirimu belum tahu kapan dan hendak pergi ke mana, tanpa kusadari ada bagian dari hatiku yang tak mau itu terjadi.

Aku egois, ya? Meski aku selalu berusaha meyakini bahwa ini merupakan bagian dari siklus hidup kita, ini masih terasa berat bagiku. Dan aku yakin, di luaran sana ada banyak orang yang sama sepertiku. Mereka yang masih terlalu sulit untuk menerima, betapa pun mereka mencoba. Orang-orang yang pernah dipertemukan pada satu titik dengan yang lain, menghabiskan waktu bersama, berbagi. Lalu beberapa waktu setelahnya, mereka tak lagi berjalan beriringan, tak lagi berdiri bersisian, dan memilih jalan yang berlawanan arah.

Baiklah, ini hanya untuk sementara. Bahwa tak selamanya kita hanya terus bermain-main dengan perasaan yang sama. Akan ada saatnya kita beranjak, bergerak, dan menemukan hal-hal baru.

Bertemu, berbagi, menciptakan kenangan bersama, lalu berpisah. Selalu seperti itu. Dan semestinya aku tak perlu berlebihan menyikapi semua ini.

Semestinya. Tapi, kamu tahu, akan selalu ada satu di antara seribu―selalu ada beberapa orang dengan label spesial di antara mereka yang datang dan pergi. Orang-orang seperti itu takkan membutuhkan usaha yang keras untuk dikenang. Sedikit saja menemukan hal-hal yang dekat dengan mereka di masa mendatang, benakmu akan terasa penuh oleh kenangan tentang mereka.

Ha… aku terlalu berbelit-belit. Maksud perkataanku adalah bahwa kamu―iya, kamu―merupakan satu dari yang sedikit itu. Dan mungkin karena alasan itu, aku selalu kesulitan untuk berkata, ‘Hei, selamat jalan.’

Ini tak pernah terasa mudah. Mungkin kita akan dipertemukan lagi di masa depan. Mungkin sepuluh atau lima belas tahun lagi kamu akan kembali ke sini. Bukankah itu mungkin? Toh, kamu tak pernah menyangkal bahwa dirimu pun ingin kembali. Tapi jika waktu itu memang ada, kita mungkin telah menjadi orang yang berbeda.

Ah, sudahlah.

Selamat jalan… Semoga perjalananmu kali ini menyenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s