Gēraskō d’ Aíeí Pollâ Didaskómenos*


Image

Image source: pinterest

‘Things change. And friends leave. Time doesn’t stop for anybody.’ — Stephen Chbosky, The Perks of Being a Wallflower

Charlie. Aku tidak mengenalnya kecuali dari surat-surat yang ditulisnya. Pun aku tidak terlalu begitu menyukainya, karena ketika membaca surat-surat itu aku merasa melihat cerminan diriku sendiri.

Namun entah mengapa saat aku membaca kutipannya di salah satu notebook-ku, aku merasa perlu menulis ini untukmu. (Aku selalu menyalin beberapa kutipan favorit dari buku yang pernah kubaca. Kutipan-kutipan itu selalu membangkitkan memori, mimpi, dan juga harapanku).

Setahun lalu, aku sudah menguatkan hatiku untuk tidak menulis lagi untukmu. Rasanya, waktu itu, aku nyaris tidak mampu melihatmu berubah. Ya, kamu berubah. Karena satu dan dua hal, aku jadi memiliki sedikit rasa benci untukmu. Tidak ada manusia yang sempurna, aku tahu. Tapi semua itu sudah cukup membuatku merasa terpukul. Aku tidak pernah menyalahkanmu, sungguh. Aku hanya merasa mungkin ini saatnya aku mundur perlahan, mencoba tidak lagi peduli pada dirimu.

Itu susah. Sangat.

Aku tidak serta-merta membencimu, mungkin tidak bisa. Kusadari itu satu bulan yang lalu. Awal tahun, saat kita hanya berjarak sekitar lima jam perjalanan—bukan dua puluh jam seperti biasanya—aku nyaris menangis karena aku tidak memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu. Lihat, kan, betapa lemahnya pertahananku?

Bahkan, saat menulis ini aku hampir menertawakan diriku sendiri. Sekarang aku sudah cukup pandai melakukannya. Menyedihkan, bukan?

***

Bagaimana kabarmu? Aku tidak perlu mencari tahu, dari dulu aku sudah cukup puas dengan imanjinasiku. Terkadang, aku sudah cukup merasa baik-baik saja dengan tidak mengetahui terlalu banyak.

Kau baik, kurasa. Dan aku justru merasa sebaliknya. (Dan, ah, selamat datang kembali sisi melankolisku).

Dalam rentang satu tahun kemarin, aku menulis surat-surat untukmu. Tidak ada yang tahu itu. Aku menulisnya di badan e-mail¸ lalu mengirimnya ke alamat surelku yang lain. Bukan hal-hal penting. Isinya hanya curahan hati dan kegelisahan-kegelisahan tak penting saat aku tidak sanggup lagi menahannya sendiri. (Satu kebohonganku yang terungkap: ya, ini bukan surat pertamaku dalam setahun terakhir).

Aku menulis beberapa. Tak sampai lima belas. Dan kemarin rasa isengku kambuh dan kulihat kembali semua, intesitas itu meningkat saat mendekati akhir tahun. Ada yang bilang, hal-hal menyedihkan sering kali mendorong kita untuk menulis lebih banyak. Dan itu terjadi padaku. Tentang apa, sebenarnya itu tak terlalu penting. Tapi ingat saat si beruang lucu ciptaan A. A. Milne itu berkata: ‘Sometimes, the smallest things take up the most room in your heart’? Kita sering kali tidak tidak bisa memilih apa itu. Sama seperti ketika kita nyaris tidak punya kuasa akan kenangan mana yang tiba-tiba muncul di benakku.

Atau, kepada siapa kita akan jatuh cinta.

***

Lucu. Saat membaca kembali, terkadang aku tertawa; terkadang keningku mengernyit; tersenyum geli; atau menangis. Aku selalu merasa itu semua begitu luar biasa, bagaimana membaca sebuah catatan lama bisa menimbulkan reaksi yang begitu berbeda dibandingkan pada saat kau menulisnya.

Percayakah kau ketika aku mengatakan hal sama ketika mengenang tiga belas tahun yang telah berlalu? Aku tidak ingin membuatmu percaya. Toh, aku yakin kau pun tidak ingin percaya. Ini bukan hal yang penting bagimu. Tapi bukankah hal yang tidak terlalu penting untuk kita belum tentu memiliki arti serupa untuk orang lain?

Mungkin, untuk sekarang aku tidak ingin terlalu peduli akan hal itu. (Satu lagi yang kupelajari selama hidupku: mencoba untuk tidak terlalu peduli—atau, sebenarnya, hanya pura-pura tidak peduli?).

Senang bisa menulis ini lagi untukmu di saat aku hampir yakin aku tak lagi bisa melakukannya. Dan mungkin kau tak tahu bahwa aku tersenyum saat menyadari bahwa ternyata hatiku belum terlalu kebas.

Selamat ulang tahun. :)

P.S. Belakangan ini, aku menyadari bahwa bukan saja kau yang berubah. Aku juga berubah, meski aku nyaris tidak pernah menyadarinya.

P.P.S. Pikiran ini baru saja terlintas di benakku. Tiga belas tahun. Ya selama itu. dan aku menyadari bahwa kau dan dia muncul di kehidupanku pada tahun yang sama. Rasanya lucu membayangkan bagaimana kebetulan itu terjadi. Takdir selalu menyimpan kejutan-kejutan kecil yang tak pernah kita duga, bukan? ;)

P.P.S. Sebenarnya aku tidak terlalu ingin menambahkan satu postscript lagi. Tapi aku selalu membayangkan bagaimana jika suatu saat takdir memberikanku kesempatan untuk bertemu denganmu. Kita hanya dua orang asing yang tak saling mengenal. Aku bukan tipe orang yang pintar dalam lisan, dan itu juga yang membuatku lebih nyaman untuk menuangkan semua dalam bentuk tulisan. Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Aku tidak mungkin berteriak kegirangan, berlari ke arahmu, dan melakukan hal-hal yang mungkin akan dilakukan orang lain saat melihatmu. Aku nyaris tertawa ketika membayangkan diriku melakukannya. Entahlah, itu hanya bukan diriku. Mungkin, nantinya aku hanya akan berdiam diri dan mengamati dirimu dari jauh—itu lebih mencerminkan diriku, eh? Namun, yang paling benar, aku sebenarnya terlalu takut untuk berharap itu terjadi. Ah, ya, aku belum sepenuhnya berubah. :)

*) I grow old always learning many things

Advertisements

2 thoughts on “Gēraskō d’ Aíeí Pollâ Didaskómenos*

  1. Entah mengapa, tulisan ini menggambarkan suasana hati saya saat ini. Paling suka dengan kalimat ini “Terkadang, aku sudah cukup merasa baik-baik saja dengan tidak mengetahui terlalu banyak.”
    Terima kasih telah menulisnya. Indah.😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s