Tentang Melepaskan


“And I thought of you, as always. And I felt I could spent four days on a bench with you ant it wouldn’t be enough time to hear all the stories you have to tell. I literary want to know everything you have ever seen and what you felt like while you’re seeing it. And I will be so much better my whole life for knowing all those things.” — Lena Dunham

Halo, G…

Bolehkah kita membicarakan hal yang berbeda kali ini? Kurasa, kita sudah sama-sama merasa bosan selalu membicarakan tentang keseharian kita. Tidakkah kau merasa demikian?

Jadi, mari kita simpan topik tentang apa yang kukerjakan seharian ini; buku apa yang tengah kubaca; atau, lagu apa yang tengah kugemari hingga kuputar terus-menerus.

Aku ingin bercerita tentang hari itu. Tentang kehilangan, melepaskan, dan tentang jarak.

*

Sungguh, aku bingung harus memulainya dari mana.

Sore itu, menjelang senja, aku menemuinya di tanah kosong tempat biasanya kami bertemu. (Dia, G. Kau tahu siapa dia, seseorang yang hingga sekarang masih tak ingin kusebutkan namanya.) Rasanya, hari itu sungguh berbeda. Dia tidak banyak bicara seperti biasanya. dan aku hanya diam, menunggunya membuka pembicaraan—dari dulu aku selalu kesulitan untuk memulai percakapan, sekalipun itu dengan orang yang dekat denganku.

Entah sudah berapa lama kesunyian melingkupi kami, hingga akhirnya dia mulai berkata-kata. Suaranya begitu lirih. Desahan napasnya terdengar berat. Seakan apa yang akan dikatakannya merupakan salah satu hal terberat yang pernah dia tanggung.

Dan dia mengatakannya, G. Mengatakan hal yang sebenarnya telah kuatisipasi dari lama; hal yang juga kutakuti.

Dia akan pergi.

Aku terdiam. Tak tahu harus bereaksi bagaimana.Tak tahu kata apa yang pantas untuk kuucapkan. Satu-satunya kata yang akhirnya keluar dari bibirku hanyalah, ‘ke mana?’ Sebagai jawaban, dia hanya mengangkat bahu. Bahkan, dia pun belum tahu ke mana kakinya hendak menjejak.

Tanpa sadar, aku memalingkan wajah. Dan kenangan-kenangan itu mulai berhamburan di benakku. Kehilangan-kehilangan di masa lalu. Sekotak manisan yang telah dengan susah payah kukumpulkan, entah atas dasar apa, ketika usia baru lima tahun. Kepindahan seorang teman dekat ke luar kota. Patah hatiku yang pertama, kedua, dan kesekian. Melihat sahabat terbaikku mulai menjauh.

Ah, ya, beberapa waktu setelahnya, dia akan menjadi satu dari mereka.

Samar, kudengar dia bertanya apakah aku baik-baik saja.

Aku menggeleng, tidak terlalu yakin pada jawaban apa yang akan kuberikan. ‘Uh, oke,’ kukatakan itu dengan susah payah dan mulai memejamkan mata. Berharap setelah itu, aku akan baik-baik saja.

*

Lantas, aku teringat kisah sepupuku bertahun-tahun sebelumnya.

Beberapa bulan setelah menyelesaikan kuliahnya, tunangannya memutuskan untuk merantau ke Dubai. Mereka telah menjadi pasangan sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Kala itu, aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan sepupuku ketika mendengar kabar itu. Dubai bukan tempat yang terbilang dekat. Butuh belasan jam terbang di atas awan untuk sampai di sana, dan juga, biaya yang tak terbilang murah.

Sampai ketika dia mengutarakan hal yang sama. Pergi. Mencari kehidupan yang lebih layak di tempat lain. Mencoba peruntungan yang tak pernah didapatnya dari tanah ini. aku pun mulai mengerti.

Sejak kecil, aku tahu betapa berbedanya aku dengan sepupuku itu. Sepupuku merupakan orang nrimo, tapi tetap teguh pada keputusannya. Dia menunggu. Menurutnya jarak adalah satu hal yang relatif. Jarak bisa ‘diakali’. Jaman berubah, dan tekhnologi bisa menipiskan jarak.

Mereka, sepupuku dan tunangannya itu, sudah menikah sekarang. Dua tahun pertama dalam pernikahan, mereka menjalan long distance married. Seolah tiga tahun terakhir masa pertunangannya belum cukup dipisahkan jarak.

Di beberapa kesempatan, aku selalu berharap memiliki sedikit saja keteguhan dan rasa percaya yang dimiliki sepupuku. Sedikit, untuk menunggu dan meyakini bahwa ada begitu banyak hal indah yang masih bisa terjadi.

Cinta bisa menunggu, katanya.

*

Kau tahu, G? Kupikir, setelah mengalami begitu banyak perpisahan dan juga kepedihan, hatiku mungkin akan terasa kebas.

Saat dia mengetuk pintu dalam kehidupanku, sebenarnya aku sudah menyisakan sedikit ruang untuk tak terlalu berharap dia akan singgah selamanya. Tidak ada yang selamanya. Kita semua tahu itu. Orang-orang datang dan pergi. Lantas, mengapa mengapa kita harus terkejut jika di kemudian hari seseorang justru memutuskan—atau diputuskan?—untuk keluar dari kehidupan kita?

Namun, aku lupa. Tidak semua orang hanya sekadar datang dan pergi. Beberapa memang hanya meninggalkan kenangan samar; ingatan berupa nama tanpa ingatan tentang wajah, atau sebaliknya. Dan beberapa justru meninggalkan jejak mendalam di kehidupanmu. Selalu ada orang-orang spesial, orang-orang yang tak membutuhkan usaha keras untuk dikenang, tak peduli seberapa lama kau mengenalnya. Selalu ada orang-orang yang sering kali membuatmu menyesal dan bertanya-tanya mengapa waktu yang kaumiliki bersamanya hanya sekejap.

Cinta bisa menunggu.

Berkali-kali, ketika kuyakinkan hatiku sebelum hari kepergiannya, aku pun merasa ragu. Bagaimana jika waktu kami benar-benar telah habis? Bahwa, mungkin saja, ini adalah kesempatan kami untuk saling melepas satu sama lain. Bahwa ini adalah waktu tepat agar kami berhenti untuk saling menyakiti.

Jadi, aku mulai melepasknnya. Bukan hanya untuk kepergian ke negeri jauh, tapi juga dari hidupku.

Lucu. Kupikir, aku akan merasa begitu sedih. Bagaimanapun dia adalah orang yang teramat dekat denganku, orang yang hampir tahu segala hal tentangku selain dirimu. Alih-alih, aku hanya merasa sedikit sedih, dan justru merasa begitu lega. Ada sebuah ruang lapang yang selama ini begitu jarang kurasakan.

Mungkin dia akan kembali, G. Mungkin juga tidak. Dan jika nanti dia kembali, kami bukan lagi pribadi yang sama ketika memutuskan untuk berpisah dan saling melepaskan. Bisa jadi, kami akan duduk di sebuah kedai kopi, bercengkrama, serta saling bertukar cerita selama terpisah. Atau—yang paling menyedihkan, dan paling tak kuinginkan—kami akan menjadi orang asing bagi satu sama lain, yang berpura-pura tidak mengenal dan tak mengaku masa lalu kami berdua.

*

Cinta adalah penerimaan yang begitu besar.

Kau mungkin bertanya-tanya mengapa aku menulis semua ini dalam suratku. Entahlah, G, karena aku sendiri juga tidak tahu pasti.

Dua kisah yang berbeda.

Orang bilang, jika kita mau berhenti sejenak dan melihat sekitar, kita bisa belajar banyak dari kehidupan. Dan, ya, selalu ada hal yang bisa kita pelajari dari apapun itu.

Begitulah, terkadang, kita pun tak perlu melihat hal yang begitu besar untuk bisa mengubah pandangan hidupmu. Bahkan, hal-hal sederhana pun sering kali membuat kita merasa tergerak.

Sepupuku membuktikan bahwa cinta selalu bisa menunggu. Bahwa jarak ada tidak hanya untuk membuat kita semakin jauh, namun justru bisa membuat kita semakin terasa dekat. Ada hal-hal yang masih terlihat indah—atau, justru terlihat lebih indah?—saat kita dipisahkan jarak, hal-hal yang selama ini tidak kita sadari saat dekat.

Namun terlebih dulu, dia telah belajar untuk melepaskan. Merelakan kekasihnya pergi. Itu bukan hal yang mudah, kautahu.

Dan, G. Bukankah sekarang kita juga sedang terpisahkan jarak? Bukankah kita sama-sama menunggu hingga jarak itu terkikis habis, dan membuat kita berada di satu tempat yang sama?

Cinta bisa menunggu.

Dan selagi menunggu, aku akan terus belajar untuk melepas. Seperti apa yang baru kusadari sejak hari itu. Terkadang, kita harus merelakan seseorang pergi untuk memberi ruang bagi orang-orang yang akan segera singgah.

 

Love,

L

 

If you love somebody, let them go; for if they return, they were always yours. If they don’t, they never were . — Khalil Gibran

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Melepaskan

  1. First time visiting your blog, and I love your posts! Dan berbicara tentang cinta yang menunggu, cinta yang harus bisa melepaskan, cinta oleh jarak dan waktu… kegundahan yang sama dengan apa yang gue rasakan :”D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s