Penuh


Kau tahu apa hal yang paling menyesakkan?

Kau sudah sering merasakannya. Berkali-kali, dan sadar benar bagaimana kau begitu membenci perasaan itu.

Benakmu terasa penuh, hingga kau sendiri kesulitan menguraikannya. Dan hatimu… hatimu yang rapuh itu begitu sesak dengan begitu banyak rasa: sedih, marah, tak peduli, serta rasa-rasa yang tak kau tahu harus menamainya dengan apa.

***

Sabtu malam kemarin, kau pergi ke bioskop demi satu film yang diadaptasi dari salah satu buku favoritmu.

Bahkan, sebelum berangkat kau sudah tahu apa yang nantinya akan terjadi. Akan ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul setelah begitu lama kausimpan untukmu sendiri. Akan ada satu mimpi yang kembali menyeruak setelah kautepikan atas nama realitas.

Ah. Matamu mulai terasa panas ketika latar film tersebut berpindah dari Pittsburg ke kota itu—kota yang selama ini menghiasi impian-impian liar. Kota impianmu.

Kau masih ingat benar bagaimana mimpi itu bermula waktu kau mulai tahu bahwa dunia jauh lebih besar daripada tempat yang kini kaupijak. Kau memilihnya secara acak, karena menurut versi sepuluh tahun  dari dirimu nama itu tak pernah terasa asing. Bagaimana ketika akhirnya usiamu bertambah dan mimpi itu ikut bertumbuh bersama dirimu.

Lalu, pipimu mulai basah. Kau tidak lagi bisa mencoba air matamu untuk bertahan di sudut mata. Kau bersyukur, satu kursi di sebelahmu itu kosong. Tak akan ada yang tahu kau menangis sebelum waktunya. Namun kau juga tak akan terlalu peduli jika satu dari orang-orang itu menyadarinya. Akhir-akhir ini, kau sudah cukup belajar untuk tidak terlalu memedulikan apa kata orang lain, terlebih jika itu menyangkut hal-hal yang berarti untukmu.

Bagimu, sudah cukup kau mengetahui mimpi itu masih ada. Bahwa mimpi masih terus bertahan sekalipun kau tahu itu akan cukup sulit untuk kauraih.

Atau mungkin, kau mulai berpikir, mimpi itulah yang sebenarnya membuatmu bertahan selama ini.

***

Pagi-pagi, kau merapalkan satu doa. Kau meminta, kendati kau tak terlalu yakin apakah ini layak untuk dilakukan.

Air matamu mengalir lagi. Kau tak lagi mencoba menahannya. Alih-alih, kau justru membiarkannya semakin menderas bersama setiap kata yang kauucapkan dengan begitu lirih.

Yang kauyakini, tak mengapa jika kau menangis untuk satu atau beberapa hal yang benar-benar kauimpikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s