I Won’t Give Up on ‘Us’


Tiba-tiba, kau teringat saat pertama kali melakukan pendakian.

Sudah hampir dua bulan berlalu. Mulanya, kau berpikir itu akan mudah dan seluruh persiapan yang kaulakukan sudah cukup. Bahwa fisikmu akan cukup kuat untuk melakukan pendakian yang hanya kurang dari satu jam—tempat yang kaudaki hanyalah serupa bukit.

Kau keliru.

Napasmu tersengal-sengal ketika baru sampai separuh perjalanan. Kedua kakimu terasa begitu lemas. Kau berhenti, dua hingga tiga kali, untuk mengumpulkan kembali kekuatanmu. Namun yang kaulakukan hanya membuatmu semakin merasa letih.

Kau berpikir untuk menyudahi perjalananmu sampai di sana. Kau tidak lagi sanggup. Deru napasmu masih memburu. Pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi benakmu. Bagaimana jika kau mati di sana, beribu kilometer dari tempat keluargamu berada?

Itu konyol, kau tahu. Kau sering menyumpahi dirimu sendiri karena imajinasimu yang terlalu liar. Tak seharusnya kau memikirkan hal seperti itu di salah satu tempat terindah yang pernah kaukunjungi.

Namun, pikirmu, kau sudah tak sanggup. Kau ingin benar-benar berhenti.

Hingga kau melihatnya. Seorang wanita muda, mungkin seumuranmu. Tubuhnya sedikit gemuk. Dia duduk tak jauh dari tempatmu. Kelelahan. Ingin menyerah. Di sebelahnya, seorang pria menggenggam tangannya. Pria itu memberinya semangat dengan lembut, menceritakan hal-hal indah yang akan ditemui sesampainya di puncak.

Kau mendengarkan, entah apakah itu boleh dilakukan atau tidak. Betapa menyenangkan memiliki seseorang yang selalu mendukung apapun yang kaulakukan. Yang memberimu semangat di saat kau merasa lelah dan ingin menyerah. Seseorang yang tanpa diminta akan selalu ada di sisimu, menenangkanmu dengan cara-cara yang sederhana.

Lalu kau bangkit. Kau tak punya seorang seperti itu. Belum. Namun karenanya, kau teringat akan rencana melihat sunrise pertama di ujung timur Pulau Jawa akhir tahun nanti.

Langkahmu masih agak goyah. Dadamu berdegup kencang bersama setiap ayunan kaki. Napasmu masih terengah-engah. Kau mulai berpikir, mungkin kau memang tidak sanggup. Mungkin kau tidak akan pernah sampai di sana. Namun kau tidak ingin memikirkannya. Mungkin tak mengapa jika nantinya kau memang mati selagi mencoba.

Mereka bilang, sesaat sebelum kematiannya seseorang akan melihat semua hal yang mereka alami selama hidup. Kau tidak melihatnya. Yang kaulihat justru kilasan dari mimpi-mimpimu. Hal-hal yang ingin kauwujudkan sebelum usiamu mencapai angka tiga puluh. Kanal-kanal yang tenang. Bangunan-bangunan tua berarsitektur Neoclassical dan Baroque. Reruntuhan kota kuno Yunani dan Romawi. Hingga gedung-gedung tinggi di Manhattan.

Dalam kegelapan pagi, perlahan kau melengkungkan bibir.

DSC02135

***

Dulu, kau selalu berpikir bahwa selama ini kaulah yang bersusah payah menjaga mimpi-mimpimu agar tetap hidup. Kau tetap memercayainya meski orang di sekitarmu menertawakan dan menyuruhmu untuk realistis.

Kau selalu percaya. Mimpimu masih bertahan.

Mengingat hari itu, ketika matahari perlahan mulai merangkak keluar dari peraduannya, kau tahu apa yang lebih benar.

Mimpi-mimpi itulah yang sebenarnya membuatmu bertahan.

***

Lalu, bagaimana mungkin kau menyerah akan semua itu—akan mimpi-mimpimu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s